Powered By Blogger

Monday, July 16, 2012

DELAPAN KEBIASAAN ORANG YANG SANGAT EFEKTIF,...Anwar Wardy W


KEBIASAAN ORANG YANG SANGAT EFEKTIF
1. Mereka mengambil inisiatif. ("Jadilah Proaktif")
2. Mereka fokus pada tujuan. ("Mulailah dengan Akhir dalam Pikiran")
3. Mereka menetapkan prioritas. ("Dahulukan yang Utama")
4. Mereka hanya menang ketika orang lain menang. ("Berpikir Menang / Menang")
5. Mereka berkomunikasi. ("Berusaha Memahami Dahulu, Baru Dimengerti")
6. Mereka bekerja sama. ("Bersinergi")
7. Mereka merenungkan dan memperbaiki kekurangan mereka. ("Mengasah Gergaji")
8. Mereka menemukan suara mereka dan membantu orang lain yang menemukan mereka,…

KEBIASAAN PROAKTIF.
Orang yang sangat efektif mengambil inisiatif…..mereka proaktif.
Mereka tidak memberi batasan pada diri mereka yang akan mencegah mereka untuk bertindak.
Mereka mengakui bahwa mereka memiliki kebebasan untuk menentukan jenis kegiatan.
Mereka sangat efektiv, bukan hanya masalah untuk mencapai tujuan melainkan untuk mencapai tujuan yang tepat.
Bayangkan diri kita duduk di belakang ruangan di suatu pemakaman dari perpektif kita. Bayangkan apa yang orang jujur ​​bisa mengatakan tentang diri kita berdasarkan cara kita sekarang.
Apakah kita menyukai apa yang kita dengar? Apakah itu sesuatu yang kita ingin agar dikenang?
Jika tidak, …..kita harus mengubahnya. Kita harus memegang kehidupan kita dengan cara kita…..//
Kita bisa mulai dengan menyusun pernyataan misi/visi pribadi yang mencantumkan tujuan kita dan menjelaskan jenis orang/pekerjaan yang kita inginkan…..

DAHULUKAN YANG UTAMA
Kita seharusnya tidak membiarkan prioritas utama yang paling penting menjadi korban dibanding yang paling tidak penting.
Kita menghabiskan waktu kita bereaksi terhadap keadaan mendesak dan darurat, dan tidak pernah berinvestasi upaya yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan untuk mencegah keadaan darurat di tempat pertama.
Kita sendiri membingungkan hal penting dengan mendesak. Yang mendesak adalah mudah untuk melihat. Yang penting adalah sulit untuk membedakan.
Kita harus menghabiskan banyak waktu untuk merencanakan, menghindari jebakan, mengembangkan hubungan, menumbuhkan kesempatan dan mengisi ulang hal penting pada diri kita sendiri.
Kita harus fokus pada yang penting tetapi tidak mendesak yaitu kegiatan yang bermanfaat.

BERPIKIR MENANG /DAN…MENANG
Orang yang sangat efektif berusaha untuk menang / dan menang transaksi.
Mereka mencoba untuk memastikan bahwa semua pihak lebih baik pada akhirnya.
Mereka tahu bahwa jenis lain transaksi adalah merusak, karena menghasilkan pecundang dan karenanya menjadi musuh dan menimbulkan perasaan buruk, seperti permusuhan, kekalahan dan permusuhan lagi.
Sebuah pola pikir Win-Win dapat membantu kita mengkalikan/menggandakan sekutu kita….//

BERUSAHA MEMAHAMI DAHULU, BARU MENGERTI
Untuk mengembangkan menang / win hubungan; kita harus mencari tahu pihak lain apa yang inginkan, dan apa yang menang dan berarti bagi mereka.
Kita harus selalu mencoba memahami apa yang orang lain inginkan dan butuhkan sebelum kita mulai menguraikan tujuan kita sendiri.
Kita tidak boleh keberatan, membantah atau menentang apa yang kita dengar.
Kita harus mendengarkan dengan seksama, dan berpikir tentang hal itu.
Kita harus berusaha menempatkan diri pada posisi pihak lain….

BERSINERGI
Sinergi yang efektif tergantung pada komunikasi.
Kita sering tidak mendengarkan, bercermin-diri dan merespon tetapi, sebaliknya, kita mendengar dan bereaksi secara refleks.
Reaksi kita mungkin defensif, otoriter atau pasif.
Kita mungkin menentang atau pergi bersama - tetapi kita tidak secara aktif bekerja sama.
Kerjasama dan komunikasi adalah dua kaki dari hubungan sinergis

MENGASAH GERGAJI….
Kita harus merawat tubuh kita dengan program latihan yang mengkombinasikan daya tahan, fleksibilitas dan kekuatan.
Kita harus memelihara jiwa kita dengan doa, meditasi, atau mungkin dengan membaca sastra besar atau mendengarkan musik besar/jazz atau orchestra…//
Perbaikan mental mungkin berarti mengubah kebiasaan buruk, seperti kebiasaan menonton televisi terus2an.
Kita harus bekerja untuk mengembangkan hati kita, hubungan emosional kita dan keterlibatan kita dengan orang lain.

SUARA HATI
"Suara" adalah makna pribadi yang unik kita masing-masing menawarkan, dan dapat membawa untuk menanggung di tempat kerja.
Kebiasaan ini adalah tentang bergerak dari efektivitas menuju keagungan…
Menemukan suara kita yang unik berarti memenuhi potensi bawaan kita.
Menemukan suara kita, melibatkan empat unsur manusia seutuhnya: tubuh, pikiran, hati dan jiwa.
 1)Pikiran = Visi
   Ketika pikiran sepenuhnya dikembangkan kita memperoleh visi, kemampuan untuk melihat potensi tertinggi pada orang, lembaga, penyebab dan perusahaan
2)Body = Disiplin
   Kita perlu disiplin untuk mengubah visi menjadi kenyataan. Disiplin datang dengan menggabungkan visi dan komitmen.
3)Jantung = Gairah
   Ketika kita mengembangkan hati yang bijak kita akan merasakan api gairah keyakinan, api yang menopang disiplin diperlukan untuk mencapai visi.
Gairah mengalir dari menemukan dan menggunakan suara yang unik kita untuk mencapai kesuksesan.
 4)Roh = Hati Nurani
    Mengembangkan identitas mental kita akan membawa kita menuju /mengetahui marka kita tepat di jalan benar, menuju sebuah kompas moral batiniah yang akan membimbing kita….// a2w.mni, July 2912

Sunday, July 15, 2012

Ten Pathways to True Artistry...//

The Specific Human Qulities;,...Trumpeters,..adalah seorang yang percaya diri (confidence) dalam hidup,,,//
Komunikasi yang harmonis,....adalah orchestra/combo.
Courage;....horn and percussion.
Discipline,...Flute, Oboe, Clarinet dan bassoon,...//
Fun,...trombone, tuba, and double bass...))
Passion,...Cello,
Tolerrance,...Viola and manajerial of Music..//
Consenration is Spirit of Zone,....Solo instrument/improsasi pada Jazz; Violin, Piano, Cllasic Gitar and Harp...//
Confidence,....TRUMPET...integritas..//
Ego and Humility,...opera, Jazz and Teater Singer...//
Creativity....Composer dan Improvising music

Jakarta, July 2012

Friday, May 18, 2012

The Dancing “Shifting of Paradigm” Leader jilid 2: Jalan Bijak Menuju Sehat “Masyarakat Bertanya – Perguruan Tinggi Menjawab” Universitas Sebagai Pusat Studi “Unity in Diversity” “It is not the strongest of the species that survive, Not the most intellegent, But the one most responsive to change” (Charles Darwin)

Public Policy; MNI (Masyarakat Neurosains Indonesia)

Pengantar
       Tahun 1966 kita menggunakan ilmu ekonomi untuk bangkit dari krisis dan menimbulkan masalah unfinished symphony  trickle down. 1997 kita menggunakan pendekatan ilmu sosial politik dan menghasilkan mesin demokrasi yang tidak efektif dan efisien. Demokrasi transaksional “kalau saya mendukung, lantas akan mendapat apa”. Penegakan hukum juga bukan proses sekali jadi. Menaikkan electoral threshold, tanpa diimbangi visi dan misi yang jelas akan menciptakan oligarkhi baru. Aksi turun jalan juga tidak membuahkan apa-apa.  Menghidupkan UKM dalam situasi resesi dunia menimbulkan masalah pemasaran ekspor sehingga fondasinya harus tetap berada di pasar dalam negeri.
Berharap pada peran institusi agama cukup beralasan karena sebagai LSM / NGO mempunyai peranan yang mencakup mulai dari mengatur bagaimana menjalani kehidupan spiritual sehari-hari sampai mempunyai relasi internasional, namun baru bisa kalau berhasil membangun harmoni di tubuhnya sendiri misalnya mengatasi perbedaan aliran dan komunitas antar agama.
Dengan percaya pada adanya jiwa yang abadi, seharusnya menjadi pelopor dan inspirator dalam menyelesaikan perbedaan dengan cara dialog tanpa kekerasan karena itu jauh lebih tinggi dari pandangan sekuler sebatas menghormati hak asasi. Mestinya kita khawatir arwahnya akan dengan berbagai cara berusaha membalas dendam. 
Bagi yang merasa mengemban misi suci memimpin peradaban, perlu menyadari bahwa jumlah penganut agama apapun belum pernah ada yang bisa  mencapai 50 % dari penduduk dunia yang selalu bertambah menurut deret ukur. Apalagi diramalkan tahun 2045 penduduk dunia menjadi 9 milyar. Jalan masih sangat panjang untuk bisa meyakinkan yang lain atau bahkan bisa dikatakan tidak realiistis kalau memaksakan nilai-nilai yang dianutnya pada orang yang berkeyakinan lain.
Apakah tidak lebih baik melalui dan memperkuat usaha bersama dan beriman bahwa pada akhirnya “ratusan sungai akan bergabung menjadi samudera”, untuk menjawab tantangan peradaban yang demikian kompleks seperti dirumuskan dalam Millenium Development Goals MDGs (Lihat “Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban”)  : 770 juta penduduk dunia yang masih buta huruf, satu milyar lebih masih berada di bawah garis kemiskinan, mencegah perubahan iklim, distribusi keadilan, bisa hidup damai bersama orang yang berbeda keyakinan dan cara dalam  menyelesaikan persoalan. Mengapa tidak konsentrasi pada hal yang paling penting dan mendasar untuk membangun peradaban yaitu  menjadi seperti pupuk yang hanya mempunyai tujuan tunggal yaitu menghasilkan buah yang lezat justeru karena tidak berasa pupuk lagi ? (TDL hal 756) 
“Meski debu emas sangat berharga, kalau masuk ke mata,
Jalan TOL pun nampak sempit, apalagi kalau pikiran kita yang kelilipan”
     Yang pasti setiap hari kita harus makan, mulai dari lahir, menjadi dewasa, tua lalu sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia,  semuanya membutuhkan biaya.  Biaya listrik, uang sekolah untuk anak, bahan bakar, pulsa tilpon sellular, pajak dan sebagainya harus dibayar supaya tidak diputus atau didenda. Lalu darimana uang bisa diperoleh ?
Rakyat harus mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap untuk membiayai semua ini. Karena itu negara mempunyai tugas menyediakan lapangan pekerjaan dan pelatihan supaya rakyat bisa masuk ke dalam dunia kerja.  Pendekatan transdisipliner adalah cara untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.

Melihat Krisis sebagai Peluang
     Lantas untuk krisis  yang kini giliran melanda negara ‘maju’ dan kita mendapatkan dampaknya (baik positif dan negatif), harus menggunakan paradigma yang mana ?
Krisis adalah gabungan kondisi sangat berbahaya (di atas ada petir - di bawah ada ular) dan peluang (sesuatu yang besar tertutup tirai dan kunci yang harus ditemukan} (TDL hal 743)
 “Orang tidah bisa ram-ram-ram kalau perutnya kosong”
“Bagi yang kelaparan, Roti adalah Tuhannya ;
Karena itu harus tersedia di setiap rumah”
(Mahatma Gandhi)
“Semua bisa menunggu, kecuali pertanian”
(Jawaharlal Nehru)  
Kaligrafi Aksara Kanji (TDL hal 274)
“Harmoni”, gabungan tanaman biji-bijan dan mulut
“Makan“ gabungan manusia dan baik, makan harus membuat manusia baik karena itu makanan dan obat adalah ibarat dua sisi dari mata uang yang sama.
Ditambah “bertengkar”, menjadi Nasi :
Meski orang baik (berkat sudah dididik),  kalau tidak ada nasi, akan bertengkar
“Setelah minum air  ingat akan sumbernya – Setelah makan, ingat siapa yang membuatnya”
“Apa yang kita makan dan minum adalah buah hasil kerja demikian banyak orang                      dari berbagai suku bangsa, kepercayaan dan keyakinan”
Jalan Kemanusiaan Universal
     “Ketika anak kecil atau orang biasa melihat anak yang akan jatuh ke sumur, ia tidak bisa acuh saja, tapi merasa cemas dan kasihan. Kemanusiaannya membentuk satu tubuh dengan anak itu. Ketika ia melihat tangis kasihan dan raut ketakutan burung atau binatang yang akan disembelih, ia tidak tahan merasakan “ketidakberdayaan mereka menanggung” derita. Ini menunjukkan kemanusiaannya membentuk satu tubuh dengan burung dan binatang. Ketika ia melihat tanaman yang dipatahkan dan dihancurkan, ia tidak tahan merasa kasihan. Ini menunjukkan, kemanusiaannya membentuk satu tubuh dengan tanaman. Bahkan ketika ia melihat ubin dan batu diremukkan dan dihancurkan, ia tak tahan merasa menyesal. Menunjukkan kemanusiaannya membentuk satu tubuh dengan batu dan ubin. Itu berarti bahkan pikiran orang kecil sekalipun pasti memiliki kemanusiaan yang menyatu dengan semua mahluk” (Wang Yangming 1472-1529).
Ketika manusia mengurangi keinginannya untuk mengganggu orang lain, dengan sendirinya  KeTuhanan akan menampakkan dirinya.
“Jangan melakukana sesuatu pada orang lain,
apa yang kamu tidak mau orang lain melakukan hal itu kepadamu”
      Pengalaman Fritjof The Tao of Physics Capra  ketika di suatu senja duduk di tepi pantai dan mengamati ombak samudera Pacific. Tiba-tiba merasa bahwa dirinya juga sedang ikut menari bahkan bersama seluruh alam semesta dalam Tarian Energi Kosmis dengan irama  mirip yang diamati setiap hari di laboratorium fisika energi tinggi seperti pendulum YIN –YANG dan oleh kepercayaan India disebut Tarian Shiva Nataraja – Sang Dewa Penari.
“Di semua lingkup gerak alam, kita menemukan sistem-sistem kehidupan yang bertengger pada sistem-sistem kehidupan lain. Jaringan – Jaringan bergantungan pada jaringan lain. Batas-batas sistem kehidupan bukan merupakan batas pemisah,  melainkan hanya batas – batas identitas saja. Semua sistem kehidupan berinteraksi satu sama lain dan  saling berbagi sumber daya melewati batas-batasnya”. (Fritjof Capra)
     Kalau ini tujuan kita menyelenggarakan pendidikan, maka dengan sendirinya tidak akan muncul diskursus Pro vs Kontra tentang Sekularisasi dan Sekularisme sehingga lagi-lagi kita tidak akan membuang waktu dan pikiran untuk membahasnya.  

Adakah Isolated Self dan Kebahagiaan / Penderitaan final dan eksklusif ?
      Ketika melihat betapa dahsyatnya dampak dari perubahan iklim, pencemaran lingkungan, masalah kecukupan dan keamanan pangan, mengatasi masalah narkoba dan sebagainya. Tidak ada satu pihak yang bisa mengatasinya sendiri kecuali bekerjasama.  Mungkin kita bisa mengatasi persoalan untuk diri sendiri dan anak yang berada langsung dalam span of control, tapi bagaimana dengan cucu, cicit, canggah kita ....dan seterusnya. Apakah ada orang yang bisa merasa bahagia untuk drinya sendiri semata di akhirat kelak ? Ketika mengalami penderitaan saat hidup di dunia, mencari media massa untuk disebarluaskan supaya ada yang perduli !              
Ada berbagai cara pandang mengenai hal ini, misalnya kearifan Yunani dalam kisah Promoteus yang diam-diam membawa keluar tungku api eksklusif hanya untuk dirinya dan tidak diperkenankan dibawa keluar dan demi menghangatkan kehidupan di dunia yang sedang dilanda kedinginan, lalu menyerahkan pada Heraklitus, Bapak Ilmu Pengetahuan. Syiva Nataraja, Dewa Ilmu Pengetahuan budaya India yang terus menari untuk memperbaiki kehidupan. Dalam budaya Jawa adadewa yang meniitis menjadi rakyat biasa dalam tokoh Semar yang menjadi pamong Pandawa. Ada    Bodhisatva yang menunda masuk nirvana dan berjanji hanya mau masuk sebagai yang terakhir setelah semua mahluk masuk nirvana bahkan sampaimau menguras neraka dulu.  Bahkan Tuhan Sang Pencipta sendiri mengirim utusan sebagai Nabi malahan ada yang  percaya sampai menjadi Manusia. Kalau semuanya bisa betrsinergi akan bisa memajukan peradaban. Pencipta yang transenden menunggal bersemayam di Hati manusia yang baik.        

Memperkuat Manusia dan Kemanusiaan “Angin Topan dan Pohon Nyiur”
    Manusia yang dilahirkan begitu saja tanpa kemauannya sendiri dan dipersiapkan terlebih dulu ini harus mengarungi samudera masalah yang dari harike hari semakin rumit dantak bisa dihindari. Kita tidak bisa memperbaiki apa yang ada di luar dan tidak terjangkau oleh kemampuan kita keculai mulai dari diri kita sendiri. Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja adalah merubah cara pandang dan meilhat semua itu dengan metafor seperti “Angin Topan dan Pohon Nyiur”. Betapapun besarnya angin topan tak akan pernah bisa menumbangkan pohon nyiur yang melambai-lambai, yang tidaada lain adalah membina diri ! 

Menemukan Matahari-Awan-Gunung dan sebagainya di dalam sekuntum bunga
    Kalau kita mengamati sekuntum bunga,makakita menemukan matahari nun jauh di sana karena tanpa keberadaannya, tidak mungkin ada bunga. Juga awan yang menari di Langit, cikal bakal hujan setelah bertemu dengan gunung. Cacing, kupun-kupu, semut, pupuk, petani dan sebagainya yang terkait dengan bunga. Di dalam bunga dan manusia yang bermutu dan mulia, kita menemukan Penciptanya. Karena itu setiap manusia mengemban amanah menjadi manusia paripurna

CREATIVE SELF TRANSFORMATION
       Learning to be Human
       Learning for the sake of the self
       Self is not as isolated atom
       Self is not as single, separate individuality
       Self as a being in relationship
       Self as centre of relationship
       Self develops continuously
       Ever – expanding process
       Ever- growing network of human relatedness
       A truly Self realization
(TU Weiming)
   Mengejar ilmu pengetahuan karena dianggap sebagai kekuasaan the love of power, jika tanpa diimbangi oleh self transformation, sehingga menjadi the power of love, akan menjadi malapetaka bagi dunia dan juga dirinya sendiri.  
   
Bukan Kedaulatan Pangan, tapi Meringankan Beban Pangan Dunia
     India dan China dengan total jumlah penduduk hampir 50 % penduduk dunia, dengan berhasil swa-sembada pangan, sudah berarti menolong dunia dari bahaya krisis pangan.
Indonesia, sebagai negara tropis nomer 2 terbesar di dunia setelah Brasilia (selebihnya sahara di Afrika) seyogyanya bisa menjadi seperti mereka, apalagi kalau bisa ikut memberi makan dunia “feed the world” karena seperti ditegaskan Bapak Bangsa Soekarno mempunyai Weltanschauung. Mensyukuri anugerah Sang Pencipta pada bangsa Indonesia dalam bentuk slogan “kedaulatan dan kemandirian pangan” tanpa diimbangi dengan kontribusi pada memelihara dunia hanyalah kepanjangan dari sikap Selfish malahaan lebih buruk karena memberi predikat pilih kasih.   

Mengajar Hidup Sehat vs Mengobati Setelah Sakit  
     Selama ini Pertanian diberi tugas menyediakan bahan pangan yang cukup.Tapi kalau mutu tanaman pangan setempat rendah, maka kesehatan penduduk sekitarnya juga  rendah. Kalau kandungan mineral dalam lahan pertanian minim dan defisit unsur tertentu, di dalam pangannya juga sama.  Mengurus pertanian dengan baik sebenarnya awal membangun kesehatan.  Ada hidden connections antara pertanian, kesehatan dan pendidikan. Departemen Kesehatan, tugasnya mengobati orang yang sakit,  mengatur kebutuhan dokter dan perawat, mendirikan rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, menyediakan obat dan sebagainya. Departemen Pendidikan diberi tugas mendidik sumber daya manusia untuk semua departemen. Pekerjaan yang kait mengkait dipecah-pecah menjadi bagian-bagian lalu ditempel-tempel sehingga hasilnya ibarat menunggang kuda mati karena totalitas bukan penjumlahan bagian tapi interplay secara keseluruhan. Tugas utama departemen kesehatan adalah mengajar bagaimana hidup sehat supaya tidak jatuh sakit. Ini baru naik kuda hidup ! Sudah saatnya pengetahuan tentang mengobati orang yang sakit (pendekatan klinis) dimanfaatkan menjadi promotif dan preventif.
   Pemerintah sudah menyadari hal ini sehingga kalau selama ini hanya mempunyai POSYANDU (Pos pelayanan Kesehatan Terpadu) yang utamanya untuk ibu dan anak, sudah ditambah POSBINDU (Pos Pembinaan Kesehatan Terpadu) memberikan pelayanan pada remaja – dewasa dan lansia mulai dari tingkat Rukun Warga dalam bentuk Kesehatan komunitas dengan tujuan memupuk kesadaran komunitas untuk menjaga kesehatan (preventif) secara swadaya dan swadana.
“ Hungry man is angry man” - “You are what you eat”

     Dalam aksara Arab, kuliah berarti universe /totalitas, sedangkan ayat adalah bagian. Universitas telah direduksi menjadi kumpulan ayat / spesialisasi  dan masing-masing mengklaim sebagai kuliah. Pada hal totalitas bukan penjumlahan tapi interplay bukan hanya antar komponen termasuk dengan sekelilingnya.  Karena itu kuncinya adalah menemukan hubungan tersembunyi the hidden connections dari semuanya. Universitas bisa  seperti bermain Total Foot Ball dalam mengatasi masalah masyarakat di zaman yang terus berubah seperti tarian abadi Syiva Nataraja untuk  memperbaiki seluruh alam semesta.

    Dalam aksara kanji juga sudah ada penjelasan posisi manusia dalam masyarakat dan alam semesta.
Manusia + angka dua = kemanusiaan
Manusia + gunung = orang bijak

Belajar dari falsafah benih “Mengelola Koleksi Obyek vs Komunitas Subyek”
Prof. Sjamsoe’oed Sadjad dalam buku “Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban” menjelaskan sebagai berikut :
       Benih / biji yang seolah seperti benda mati (tidak dapat berpindah tempat sendiri), ternyata mahluk hidup yang mengemban tanggungjawab besar dalam kehidupan spesiesnya. Benih adalah simbol kehidupan, meski harus melalui jalan yang panjang.
       Dia diberi perlengkapan  seperti sayap supaya bisa tertiup angin hingga “terbang” jauh menyebarkan spesiesnya.
       Diberi “bungkus” berserat supaya mengambang terbawa arus air dan terdampar jauh dari induknya danmenyebarkan spesiesnya.
       Diberi “baju” yang tebal dan keras supaya bisa tetap “beristirahat seperti mati suri”kalau udara terlanpau dingin untuk  tumbuh. Sebab kalaupun tumbuh dia akan mati dan keturunan spesiesnya akan punah.
       Diberi pemanis yang menarik atau bau yang merangsang sehingga bisa menarik binatang untuk dibawa pindah ke lain tempat.atau bahkan sampai di pangkal cabang tumbuhan lain dimana bisa tumbuh di situ karena terjamin makanannya.
       Dia bisa tetap dalam buah dan dimakan binatang yang menyukainya, masuk ke dalam perut bintang dan dicerna hingga saatnya dikeluarkan sebagai tinja dan dijatuhkan dimana saja.
       Atau mempunyai alat pengait pada kulitnya sehingga bisa tersangkut pada bulu binatang atau celana manusia  dan terbawa kemana-mana.
       Mempelajari rahasia benih, kita akan memahami bagaimana Sang Pencipta memelihara dan memberi makan seluruh ciptaanNya. Itulah ilmu yang diperlukan bagi mereka yang mempersiapkan diri menjadi pemimpin !  
Membangun Pertanian harus berbasis penelitian, pendidikan dan penyuluhan.  Kinerja perguruan tinggi pertanian dalam keseharian lebih banyak dengan masalah pertanian. Sedangkan secara struktural berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Karena itu harus ada sinergi antara keduanya.
Dari Tarian Benih – Agronomi - Pasca Panen sampai tersaji di meja makan
Semuanya saling kait mengkait sehingga harus saling menunjang dan sama pentingnya tanpa ada pilih kasih. Meski tangan kanan kita melakukan semua hal yang penting dibandingkan tangan kiri, tapi tidak merasa superior dan minta diistimewakan. Ketika tangan kiri memegang paku dan tangan kanan dengan palu memukul tapi salah pukul sehingga melukai tangan kiri, maka segera membuang palunya dan menyelamatkan tangan kiri. Meski ujung kaki kita jauh dari otak yang merasa sebagai ‘pusat’, kalau tersentuh benda tajam atau panas, akan spontan ditarik.
Ketika India mulai berhasil meningkatkan produksi gandum untuk mengatasi kelaparan, tapi bijinya berwarna merah, ternyata sambutan rakyat kurang karena makanan rakyat chapatti biasanya dibuat dengan biji gandum warna coklat ke kuning-kuningan. Dibantu oleh ilmupengetahuan dan teknologi, akhirnya warna varietas biji gandum bisa diubah.     
Makan dan aktualisasi potensi manusia
Makan, bukan sekedar mengisi perut dan memberi asupan gizi tapi gerakan multi dimensi. Rahang mengunyah, sekresi air liur, getah lambung, gerakan peristaltik usus sampai otot dubur berkontraksi. Bilamana manusia diberi makan bergizi dalam kapsul, akan terjadi deformasi bentuk wajah dan sistem sekresinya akan hilang “use it or loose it”                   Kesatuan gerak ini harus jalan terus menerus sehingga kita tidak bisa makan sekali untuk beberapa hari. Setelah masuk ke dalam perut manusia, terjadilah tarian bio-kimia yang akan menentukan mutu manusia / hewan yang memakannya.
Pertanian dan Infrastruktur
Pertanian memerlukan sarana irigasi, pupuk, transportasi  supaya bisa sampai ke meja makan. Karena itu memerlukan dukungan lintas departemen.
Pertanian dan Perdagangan
Diperlukan dukungan kebijakan perdagangan dalam negeri maupun menghadapi impor karena produk pertanian merupakan bagian dari issue perdagangan bebas.
Masalah hubungan Ketenaga Kerja
Upah akan selalu mnjadi issue industrialisasi. Kenaikan upah adalah sesuatu yang tidak bisa dihndarkan. Bila disertai dengan meningkatnya produksi, maka bisa malah memperkuat daya beli masyarakat. Kalau bisa sehat sampai pensiun akan memperkuat tabungan nasional dan bisa digunakan untuk memutar roda perekonomian nasional.
Mencintai produk dalam negeri
Banyak dianjurkan tapi bagaimana mendidiknya  masih belum jelas. Dalam sistem perdagangan bebas harus bersaing dengan  produk luar yang mempunyai dan kemampuan untuk membangun citra melalui meda iklan.
Kenaikan pendapatan rakyat dan penyakit akibat perubahan pola makan
Selama ini dianggap sebagai tujuan pembangunan, tanpa disadari akan membawa serta penyakit yang biasa diderita oleh kelas atas karena pola makan berubah seperti diabetes, stroke dan sebagainya pada orang yang sebelumnya jarang terjadi.  Biaya perawatannya cukup tinggi dan akhirnya negara juga yang harus membayar.
Kesehatan Jiwa
Penderita penyakit psychogenic terus meningkat menurut deret ukur. Jumlah penderita yang bisa direkam seperti gunung es hanya nampak sebagian kecil saja. Padahal ketersediaan spesialis bertambah melah lebih lambat dari deret hitung. sehingga jauh dari  memadai. Karena itu spesialis kesehatan jiwa sebaiknya diarahkan untuk membimbing masyarakat pada hal preventif supaya bisa menghindari dan menolong dirinya sendiri. 
Menteri Pertanian dan Menteri Pendidikan & Kebudayaan (Lihat TDL hal 747)
Ketika perut manusia sudah kenyang dan tubuhnya dibalut pakaian hangat, maka sifat binatangnya (menjadi malas) akan kembai muncul. Karena itu diperlukan pendidikan etika supaya yang di atas menjadi teladan !
Cara mengabdi kepada Negara
Ketika ditanya bagaimana saya bisa mengabdi kepada negara, Sang Guru menjawab: “Uruslah dirimu dan keluargamu dengan baik , itulah cara untuk mencintai dan mengabdi kepada negara !”
Tsunami buatan manusia, buah sistem pendidikan yang tidak tepat
20 % APBN sudah dialokasikan untuk pendidikan. Tapi kalau menghasilkan manusia yang hanya mau tahu disiplin ilmu yang dipelajari saja, apalagi kalau Self nya tidak bisa berkembang atau malahan menjadi Selfish, maka 10 (sepuluh) tahun lagi, kita akan sibuk mengurus manusia yang bertengkar, bukan bekerja dan bekerjasama. Dampak tsunami buatan alam, meski demikan dahsyat, cakupannya terbatas. Tsunami buatan manusia sebagai akibat pendidikan akan dilanjutkan turun temurun.
Ini adalah akibat cara pandang yang sekarang sedang terjadi yaitu : kumpulan fakultas (bahkan cluster) disebut Universitas. Sedangkan yang seharusnya adalah : Di dalam Universitas ada berbagai Fakultas ; Dalam setiap Fakultas mengandung semangat Unversalitas. 
Spirit Menyusun Kabinet
Pengalaman mengadakan dua kali pemilihan umum dengan sistem yang baru menunjukkan bahwa partai-partai paling banter hanya bisa mengumpulkan sekitar 20% suara sehingga harus berkoalisasi dengan partai lain untuk memimpin DPR. Kondisi ini akan mengimbas ke susunan kabinet. Akan selalu terjadi kombinasi antara zaken kabinet dan koalisi partai pendukung pemerintah.  Diperlukan kepemimpinan yang bisa mengelola kondisi ini. Yang paling penting adalah memahami hubungan keterkaitan antar departemen yang satu dengan yang lain, bukan hubungan transaksional sebagai pertimbangan !
“Education is the ability to perceive the hidden connections between phenomena”
(Vaclav Havel)

Dalam ilmu statistik dikenal sebagai memahami underline distribution yang sangat penting untuk memahami nature dari suatu masalah. Kalau masalahnya saja belum jelas, bagaimana kita bisa memberikan solusinya ?
                  Ketika masyarakat menghadapi globalisasi yang menari seperti layaknya seekor gajah liar, dan bertanya pada Unversitas, jawaban yang muncul adalah kumpulan penjaga pilar disiplin ilmu. Ada yang membawa sepotong kaki (kiri-kanan- depan-belakang), ekor, kuping, taring, perut dan sebagainya sehingga ketika dirakit yang didapat hanya patung gajah, bukan gajah hidup.  Dalam aksara arab, dibedakan antara kosa kata “kuliah “ artinya universe atau unity dan “ayat” artinya particular atau diversity. Kalau ada suatu cara pandang dan asas yang bisa diterapkan untuk masalah  apa saja, maka itu adalah : “Perubahan dan Unity in Diversity”
                  Keanekaragaman itu sekarang jauh lebih kompleks, dahsyat dan bersifat nir-kabel dibandingkan di masa lalu pada saat E. Pluribus Unum diputuskan untuk menjadi pilar negara Amerika Serikat dan Pancasila dasar negara Indonesia dirumuskan yang masih berbentuk hubungan kabel antar kelompok seperti daerah, etnis, budaya dan agama/kepercayaan. Dengan adanya teknologi sellular yang harganya semakin terjangkau sampai lapisan bawah, maka setiap orang bisa menjadi penerima berita (receiver) dan pada saat bersamaan menjadi sumber (produser) dan menyebarluaskan berita (transmitter). Ini menembus dan menggoncangkan hubungan kabel antar lembaga-lembaga formal seperti Trias Politica yang membagi-bagi kekuasaan menjadi Legislatif –Ekesekutif – Yudikatif ditambah pilar ke-empat demokrasi yaitu media massa, menjadi amorph karena bersifat People to People yang cair.  Pengaruh ini bahkan masuk sampai keluarga inti sehingga ketika sedang berkumpul di meja makan bisa terjadi: yang jauh menjadi dekat – yang dekat menjadi jauh, ketika salah satunya menggenggam komunikasi sellular.
Ini masih ditambah dengan berbagai Komisi Nasional yang dilindungi PBB seperti pada anak, wanita, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya. Karena itu lembaga seperti partai, organisasi keagamaan, bisnis, militer dan sebagainya tidak ada yang bisa menghindar untuk ditembus era teknologi informasi.
Peran media semakin dominan dalam mempermainkan mind-set masyarakat karena sifat manusia yang mudah lupa dan tertarik pada yang baru serta serba huah.
Karena itu diperlukan Lembaga yang mengkhususnya untuk mempelajari “Unity in Diversity” dan ilmuwan yang seperti Newton ketika melihat planet-planet bertebaran di angkasa raya namun bisa terjadi tabrakan dan menemukan hukum-hukum yang menggerakkannya dan Fritjof Capra dalam buku The Tao of Physics. Akan terjadi kelahiran baru setelah era genesis yang bersifat fisik (the without) menuju noo-genesis yang bersifat kesadaran (the within) yaitu Era Konvergensi       
Perguruan Tinggi Pertanian -  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian – Kementerian Riset dan Teknologi harus bekerja sama “From Lab to Lab”, kemudian “From Lab to Land” lalu “From Land to Land”
Berguru ilmu memahami “hidden connections of all phenomenas” pada Pendekar Buta
Kalau perhatian diarahkan ke depan, di belakang lemah - Kalau di kiri, sebelah kanan lemah - Kalau ke atas, di bawah lemah, demikian pula sebaliknya”. Pendekar buta bisa melihat dengan ‘telinga’ dan mendengar dengan ‘hati’, sehingga bisa membedakan antara manuvre dan serangan sesungguhnya. Energinya berlabuh dengan tenang beberapa centimeter di bawah pusar dikenal sebagai Titik Tan Tiem. Kondisi otaknya dalam Rekaman EEG berada di Gelombang Alfa : menyatu dengan seluruh alam semesta, menjadi manusia yang damai dulu supaya bisa mendamaikan pertengkaran yang ada diluar dirinya !   
                  Mensosialisasikan hubungan keterkaitan ini dengan sendirinya akan merubah sikap fanatisme menjadi lunak dan kooperatif sehingga terjadi proses de-radikalisasi, tidak dalam bentuk semacam ‘cuci otak’, tapi secara alamiah dan manusiawi. Orang akan malu setelah tahu bahwa apa yang dimakan adalah hasil dari jerih payah begitu banyak pihak yang sangat beragam.   
BAB  I : Hubungan Keterkaitan Transdisipliner
  1. Belajar dari negara adhidaya pertanian dan pangan (China, India dan AS), hasil seminar internasional pangan tgl 29 Oktober 2011 di Bogor.
  2. “Pertanian : Dari sekedar urusan logistik menjadi cara pandang holistik”, Dr Asep Saefuddin, IPB
  3. ”Perkebunan dan Membangun Budaya Sehat”, Dr Didiek H Goenadi, PT Riset Perkebunan Nusantara
  4. “Pendidikan Teknologi dan Inovasi dalam Menyiapkan SDM Industri Kelapa Sawit Indonesia yang Berkelanjutan”, Prof. Dr E. Gumbira Sa’id IPB
BAB II Arah Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Lit Bang Pertanian)
5.     Zoning perbenihan berdasarkan kondisi Bumi dan agroIklimat
6.     Tanaman untuk Pangan – Kesehatan – Obat dan sebagainya
7.     Teknologi Pasca Panen. Ini penting sekali karena dengan perbahan iklim menjadi tidak menentu maka setelah panen harus segera diikuti dengan teknologi pengolahannya sehingga tidak rusak oleh perubahan cuaca. Hasil Pasca Panen akan menentukan GMP supaya bisa lulus uji Badan POM.
8.     Prof. Dr Damarjati (pendiri Balai Besar Pasca Panen), Dr Sri Yuniani dan DR Ir Sri Widowati akan membeikan kontribusi dan tema menyusul
BAB III Pangan dan Kesehatan
9.     Pangan Lokal dan Kesehatan (Ir Priyo Atmaji, BPPT)
10.  Penyediaan Protein berbasis Ikan dan Ternak (Dr Irvan Faizal, Ir Nenie Yustiningsih M.Sc,  BPPT)
11.  Protein Nabati perlu dikembangkan karena ternak ternyata mempunyai andil besar dalam pemanasan global.
12.  Obat alami dan Penyakit degeneratif (Dr Bambang Marwoto, Apt, BPPT)
13.  Pengembangan Pupuk Hayati untuk Tanaman Bio-organic (Dr Agus Masduki, BPPT)
14.  Pemanfaatan Pakan Ternak Ramah Lingkungan untuk Mengurangi dampak Pemanasan Global (Prof. Dr Herdis dan Dimar Sri wahyuni, S.Pt)
15.  Keamanan Pangan dan Kesehatan (Drs Tarwadi M.Si, BPPT)
16.  Industri Pati untuk Kesehatan (Ir Bambang Triwiyono,M.Si dan Ir Bambang Srijanto, BPPT)
17.  Merentas Tantangan Industri Obat Alami Nasional (Dr Lystiani Wijayanti, BPPT)
18.  Kearifan Lokal dan kesehatan, (Maria Dian Andriana, LKBN ANTARA)
19.  Spesies Daun nicotiana tabacum (tembakau) dalam olahan makanan, Dr Anwar Wardy W, Neurolog Universitas Muhammadiyah Jakarta.
20.  Peranan Industri Pangan Bijak untuk Konsumen Sehat, Prof. Dr Purwiyatno Hariyadi, IPB
21.  Menumbuhkan Kesadaran dan Meningkatkan Kemampuan dalam GMP Good Manufacturing Process  UKM bidang Pangan  (direkomendasikan Dr Lilis Nuraida, IPB)
22.  Peran Badan Pengawas Obat dan Makanan “lessons learnt” dari pengalaman masa lalu  , Prof. Dr Winiati P. Rahayu, Dept. Of Food Science and Technology, IPB
23.  Fortifikasi dengan Micro – Nutrien.
24.  Seni Kuliner berorentasi Kesehatan
25.  Makanan Sehat dan Halal, Dr Jaenal Aripin, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
26.  Titian Kemandirian Obat Nasional, Visi Progresif CEO BUMN Farmasi
BAB IV Visi Baru Membangun Kesehatan Badan
  1. Peran Kombinasi Stimulasi dan Nutrisi Selama Hamil Terhadap Kualitas  Generasi Mendatang Indonesia Dr dr Hermanto TJ Sp OGK
  2. Kantin Sekolah untuk Keamanan Pangan : Prof.Dr Fransiska Rungkat –Zakaria  IPB
  3. “Pemberian Gizi pada saat Periode Emas “, Prof. Dr Hardinsyah IPB
30.  Pendidikan Gizi dalam Keluarga dan untuk para Guru Sekolah, Dr Risa Kolopaking, Fak Psikologi UI
31.  Meningkatkan konsumsi susu, membangun kesehatan - peternakan – pertanian dan ekonomi pedesaan lesson learnt dari White Revolution India, Dr Ahmad Syafiq (FKM-UI)
32.  Mungkinkah mengembangkan Industri Madu Rakyat seperti susu ?  
33.  Mengatasi Penyakit akibat kekurangan / kelebihan Gizi, Drupadi Dilllon Ph.D, Commmunity Nutrition Wageningen.
34.  Terapi Regeneratif Masa Depan, Ilmu Pengetahuan, dan Nilai-nilai Kecendekiaan- Ika Dewi Ana, drg., PhD. (Grup Riset Rekayasa Jaringan, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada)

BAB V MENGUPAYAKAN KESEHATAN JIWA
35.  Tinjuauan Psikologis Perubahan Pola Hidup dan Penyakit yang menyertai sebagai akibat peningkatan pendapat, Prof. Dr Enoch Markum, LPPsi Universitas Indonesia    
36.  Lansia dan Mengatasi Penyakit Degeneratif  (Prof. Dr Clara Kushart, Fakultas Ekologi Manusia - IPB)
“Meski hidup sejahtera secara material,  kita hanya bisa makan 3 x sehari ;  lebih dari itu malah menjadi penyebab sakit; meski bisa beli ranjang super kingssize, setelah tidur nyenyak ternyata yang terpakai hanya single size ”
37.   Anthropology Kesehatan : Dr Semiarto A. Purwanto FISIP-UI
38.  Dari Hospital menuju Community Base Pemeliharaan Kesehatan: Dr Dumilah Ayuningtyas FKM –UI
39.  Dari Hospital menuju Community Base Pemeliharaan Kesehatan dalam persepktif Kesehatan Jiwa : Dr Pandu G. Setiawan Sp.KJ
40.  Budaya Perusahaan “Masuk Sehat – Pensiun Sehat” : Dr Bagus Takwin dan Tim LPPsi UI
BAB VI Budaya Nusantara dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
41.   Meneliti olahraga dan  Kesenian dalam perspektif kesehatan psikis, neurosains dan pendidikan: Dr Bagus Takwin dan Tim LPPsi UI
42.  Peranan industri asuransi kesehatan dan kebijakan naik Kuda Hidup
43.  Hubungan Industrial Pekerja dan Pengusaha
44.  Menumbuhkan industri kreatif pelatihan hidup sehat “Masyarakat Bertanya – Perguruan Tinggi Menjawab”.
BAB VII Mempersiapkan Mengikuti Perubahan
  1. “Perubahan dan Neuroplastisitas” , Dr dr Taufiq Pasiak, C.NET UIN Sunan Kalijaga
  2.  “Aku – Kami – Kita”, Prof. Sarlito W Sarwono, UI  (berdasarkan tulisan di Kompas tgl 5 Januari 2012)
  3. Interfusing body and mind – Neurologi dan “Unity in Diversity”, Dr. Jan S. Purba PhD, Departemen Neurologi, FK UI.
  4. Interfusing body and mid – Psikologi dan “Unity in Diversity”
  5. Interfusing body and mind – Psikiatri dan  “Unity in Diversity” 
  6. Interfusing body and mind – Psikoneuroimunology dan “Unity in Diversity”
Psyche dan fisik hidup dalam dunia yang sama, dan masing-masing saling mempengaruhi, sehingga kalau tidak maka aksi timbal balik tak akan terjadi. Jika penelitian ilmiah ingin maju lebih jauh, kita akan sampai pada kesepakatan akhir antara konsep fisik dan psyche” (Carl Gustav  Jung).
Para ahli telah mengetahui bahwa kaitan antara mind-body sangat erat. Hal ini telah diketahui sejak pengamatan Galen (200 AD), bahwa prempuan melankolis lebih rentan terkena kanker panyudara dan infeksi. Robert Ader yang mengikuti aliran aliran behavioris menyatakan bahwa kaitan antara perilaku, fungsi sistem neuroendokrin  dan imunitas sedemikian kuat dan kondisi ini melahirkan kajian Psikoneuroimunologi (Suhartono Taat Putra)
51.  Sinergi Pancaindera dan Vestibuler (saraf keseimbangan) dengan Teknologi Penginderaan dalam ilmu kedokteran,
Hearng is media for curing’ - ‘Namun kalau tanpa hati, meski mendengar tapi tidak kedengaran – Meski melihat, tidak kelihatan’,  Dr Nyilo Purnami, FK – Universitas Airlangga
52.  “Manajemen Universitas : Hidden Connections antar Fakultas”, Tim Fakultas Psikologi Universitas Pancasila.
53.  Pendidikan Tanpa Sekolah”, Dr Totok Soefijanto, Universitas Paramadina.      

BAB VIII  THE DANCING LEADER :
·       Kalau lahir alamiah, bagaimana bisa meresponse perubahan semesta yang terus menerus terjadi secara serentak dan kait mengkait semakin kompleks ?
·       Kalau harus menunggu utusan dari sesuatu di luar sistem, akan menimbulkan masalah pilih kasih dan kalau jumlahnya banyak, bagaimana bisa terjadi ?
·       Kalau bisa dididik dan dilatih, lantas bagaimana  caranya ? Jawabannya adalah semua orang harus terus belajar sehingga mencapai PENCERAHAN yang sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.
·       Diharapkan muncul tulisan dari kalangan Sekolah Kepemimpinan
 “Ketika berada di depan, memberi teladan;
Ketika di tengah, membangun motivasi
Ketika di belakang, memberikan dukungan dan semangat”
(Ki Hadjar Dewantara)
54.  Pengembangan Model  “ Seleksi dan Rekruitment SDM berkualitasmelalui Kepemimpinan Efektif, Dr Gunawan

BAB IV Membuka Peluang Pasar International “Unity in Diversity”
Alam semesta yang menari bersama dalam satu kesatuan, memerlukankan prinsip universal “Unity in Diversity” bahkan lebih dari itu “Unity is Diversity – Diversity is Unity”. Diperlukan pendidikan kesadaran, pelatihan dan membuka kesempatan sehingga semuanya bisa ikut berpartisipasi dalam tarian agung ini. India, China, Amerika Serikat, Indonesia, saat ini sudah berada dalam konstelasi hubungan yang saling menghidupi dan membatasi seperti halnya 5 (lima) unsur dalam alam : Kayu – Logam – Api – Air – Tanah. Telah menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi sbb.:
55.  Prof. Dr Azyumardi Azra, Direktur Pascasarjana UIN
56.  Prof. Dr John Titaley, Rektor UKSW
57.  Dr P. Wiryono, Rektor Universitas Sanata Dharma
58.  Prof. Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN
59.  Dr Edie Toet Hendratno, Rektor Universitas Pancasila
60.  Dr Donny G. Adian, Jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya,UI
61.  Dr Ronny Adhikarya, mantan Pejabat World Bank 2003 dan Perwakilan FAO di Pakistan, Fellow East-West Center Hawaii
62.  Dr Yudi Latif, Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila

NB. :
BAB IX akan diterbitkan dalam dua – bahasa karena akan diluncurkan pada awal September dalam Konferensi International Hubungan Timur dan Barat di Beijing.
Masih dibuka kesempatan bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam bab ini.

CATATAN :
“Setelah masa pelapukan di musim gugur dan                                                                                           seolah berhenti tumbuh di musim dingin, datanglah TITIK BALIK.                                                                                         Cahaya yang selama ini ditekan, telah kembali.                                                                                   Ada gerakan tetapi  tidak berdasarkan kekuatan.                                                                                   Muncul  secara alamiah dan spontan.                                                                                         Karena itu peralihan dari yang tua menjadi gampang.                                                                      Yang lama ditinggalkan, yang baru diperkenalkan.                                                                      Karena keduanya sesuai dengan masa  tidak membuat cedera”                                                                                                                             (Kitab tentang Perubahan I CHING)

“Perhatikan pikiranmu, karena akan menjadi kata-kata;
Perhatikan kata-katamu, karena akan menjadi perbuatan;
Perhatikan perbuatanmu, karena akan menjadi kebiasaan;
Perhatikan kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu;
Perhatikan karaktermu, karena akan menentukan masa depanmu”
(Dalai Lama)
Sampai abad ke 20 peradaban manusia didominasi oleh pandangan :
“Manusia memiiki Bumi dan mempunyai hak untuk menguasai yang terbang di udara,        merayap di darat dan berenang di air”  

“Yang tidak setuju dengan saya adalah musuh saya ;
Yang tidak mau membantu saya memerangi musuh saya, adalah musuh saya;
Yang berhubungan baik dengan musuh saya, adalah juga musuh saya.
Boleh melakukan pre-emptive strike bila menghadapi sesuatu yang mencurigakan”

“Padahal bagi yang percaya bahwa jiwa bersifat abadi, akan selalu menghindari kekerasan dan memilih pendidikan dan berdialog untuk menyelesaikan perbedaan”. Menghadapi roh yang mau membalas dendam jauh lebih sulit dari yang kasat mata.
“Inilah salah satu alasan mengapa ada  ajaran supaya mencintai bahkan musuh”
Awalnya dari idea tentang atom (a-tomos) satuan terkecil yang tidak bisa dipecah lagi. Persatuan antar atom dikarenakan adanya  ikatan kohesi seperti kapur dan papan tulis dan sifatnya sangat lemah. Kalau mau lebih kuat memerlukan perekat dari luar (adhesi) .
Kimia Anorganik mempelajari ikatan electro-valen yang lebih kuat karena antar atom di dalam alam  ada yang ingin bergabung karena  bermuatan negatif dan positif.                          Kimia Organik Ikatan yang lebih kompleks dan disebabkan adanya elektron antar atom yang berada di kulit terluar. Cirinya adalah semakin banyak unsur yang terlibat, manfaatnya semakin besar.
Fisika kuantum terjadi ikatan berdasarkan getaran sehingga seperti kepakan kupu-kupu di Amazon bila waktunya tepat bisa mengakibatkan tsunami.
Inilah spirit Abad 21, semangat konvergensi  “One World – One  Universe – One Dream”
“Mount Sumeru is in a grain of mustard, Within it the whole universe is hidden.
Since the world is sick, I feel sick  - Since human is suffering, suffer”
(Vimalakirti)

Meski mengklaim sudah maju, ternyata peradaban kita masih belum memahami apa arti menjadi “besar” sehingga mengakibatkan Perang Dunia 1  (TDL hal 581 dan 596) dan “perbedaan pendapat bagi keseluruhan” yang menjadi penyebab Perang Dingin (TDL hal 581)

Kearifan Jawa “Hamemayu Hayuning Bawana” :
“Cantiknya  manusia tergantung pada cantiknya dunia;
Cantiknya dunia tergantung pada cantiknya seluruh Alam Semesta”
Kearifan Sunda dalam interaksi sosial : “Silih Asih – Asah –Asuh” –
Dalam Hubungan Pusat dan Daerah : “Daerahnya Pusat – Pusatnya Daerah”
Menurut Prof. Dr Fuad Hassan menemukan bahwa neurosis dan psikosis adalah sociosis. 
Dari Raja sampai Rakyat Jelata Harus Terus Belajar Sepanjang Hidup
“Orang zaman dulu yang hendak memperbaiki dunia,                                                                    Ia lebih dulu berusaha mengatur negerinya.                                                                                Untuk mengatur dirinya, ia lebih dulu membereskan rumah tangganya.                                           Untuk membereskan rumah tangganya, ia lebih dulu membina dirinya.                                       Untuk membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya.                                                    Untuk meluruskan hatinya ia lebih dulu memantapkan tekadnya.                                                  Untuk memantapkan tekadnya, ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya.                            Untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakikat tiap perkara.                                  Dengan meneliti hakikat tiap perkara, maka cukuplah pengetahuannya.                                 Dengan cukup pengetahuannya, akan dapat memantapkan tekadnya.                                    Dengan memantapkan tekadnya akan dapat meluruskan hatinya.                                               Dengan hati yang lurus akan dapat membina dirinya sehingga                                                     dapat membereskan rumah tangganya.                                                                                                Dan setelah itu mengatur negerinya sehingga tercapailah damai di dunia.                                  Karena itu dari raja sampai rakyat jelata ada satu kewajiban yang sama yaitu : Mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.                                                                               Adapun dari pokok yang kacau itu tidak pernah                                                                                dihasilkan penyelesaian yang teratur baik.                                                                                         Karena hal itu seperti menipiskan benda yang seharusnya tebal dan                                       menebalkan benda yang seharusnya tipis.                                                                                                 Hal ini sesuatu yang belum pernah terjadi “
(Ajaran Besar / Thay Hak)
“Knowing how things works give
The leader more real power and ability than
All degrees or titles the world can offer”
(John Heider,”The Tao of Leadership”)

Aku dan Perjalanan Hidupku (Dandanggula Kijurumartani)
“ Di dalam kita menjalani hidup ini, sesuai dengan kodratNya
Kita hanya melaksanakan dharma,kewajiban sesuai kodrat kita sebagai manusia.
Karena itu dalam setiap perbuatan, kita harus menyadari
Untuk bekerja dan bekerja tanpa pamrih, bisa diumpamakan ‘makaryo tan akaryo’
Artinya kita berbuat sesuatu tapi tidak merasa membuat sesuatu dengan mengharapkan hasilnya  ‘sepi ing pamrih rame ing gawe’
Semua yang ada ini bekerja, bahkan Tuhan pun bekerja;
Menghidupi dunia ini tanpa henti,
Matahari, bulan, angin, bumi, air dan api.
Semua bekerja demi kelangsungan hidup, dan tanpa pamrih.
Dasarnya hanyalah merasa wajib.
Alam adalah ‘ Ilmu Nyata ‘, kita wajib meniru Dharmanya”
Spiritualitas semacam ini yang diperlukan oleh bangsa yang mau membangun peradaban !
Hakikat Kehidupan adalah “Melatih diri supaya bisa memiliki (to have) dan pada saatnya bisa melepaskan kembali (to give) , tanpa minta imbalan / Wu-wei” ;
“Tahu kapan datang dan tahu kapan tiba saatnya harus pergi “. 
Bill Gates, Warren Buffet, dan sebagainya sudah mulai memahami tujuan hidup sesungguhnya tidak lebh dari “Makan tiga kali sehari dan kalau malam bisa tidur nyenyak”. Lebih dari 3 x sehari malah jadi sakit ; meski di ranjang emas, belum tentu bisa tidur nyenyak. “Kalau bisa tidur nyenyak, meski di atas dengan ukuran ranjang super king size  yang dipakai hanya sebesar  ukuran single bed” 
“Unity in Diversity adalah peradaban masa depan;
Bagi yang memahami dengan sendirinya akan memimpin,
 Yang belum memahami akan berada dalam posisi dipimpin.
Yang tidak mau berusaha memahami akan menjadi masalah masa depan”
Ketika seorang bijak sedang berjalan di tepi hutan, tiba-tiba melihat seekor elang menukik dan menyambar induk ayam yang sedang mengais makanan lalu dibawa terbang sehingga anak-anaknya berteriak kehilangan ibunya. Ia mengejar elang itu sambl berteriak, “kembalikan dia, kasihan anak-anaknya !” Elang itu menyahut, “Di sarang menunggu  3 (tiga) anak yang harus saya beri makan supaya tidak mati kelaparan !”. Ia tertegun sejenak lalu menjawab, “ Ambillah tubuh saya sebagai penggantinya !” sambil mengerat tubuhnya dan diberikan kepada elang. Namun anehnya setiap kali dagingnya tercabik, segera tubuh daging baru memulihkannya. Inilah yang disebut welas asih / compassion. Disinilah perbedaan antara manusia dan hewan !
Naif memang, bukankah ini yang disebut iman. Kalau karena mengharapkan imbalan / reward, itu disebut trade-in. Lalu apa bedanya dengan pandangan Adam Smith yang kemudian menjadi cikal bakal kapitalisme liberal, yang mengatakan,”Bukan karena kebaikan tukang roti, daging dan bir sehingga kita bisa hidup sejahtera, tapi karena mereka mencari untung “.
Ketersediaan sumber daya alam dibatasi oleh luasnya bumi yang tidak bisa bertambah, sedangkan jumlah manusia dan kebutuhannya terus meningkat apalagi kalau ramai-ramai memperebutkan untuk diolah menjadi bahan yang tidak bisa didaur ulang dengan limbah yang mencemari lingkungan. 
Untuk mengatasi monopoli diadakan sistem ekonomi pasar yang berdasarkan kepercayaan bahwa pasar mampu mengkoreksi kelemahannya sendiri sehingga pemerintah tidak diperbolehkan banyak campur tangan. Terjadilah free trade tapi unfair trade. Lagi-lagi kita dihadapkan dengan bukan  memilih yang ini atu itu, tapi menemukan hidden connection antara keduanya atau unity in diversity.
Kearifan kuno mengajarkan “Spring comes and the grasses grow by itself - Musim semi tiba dan rumput tumbuh dengan sendirinya” !      //....Jusuf Sutanto...//