Pengantar
Tahun 1966 kita menggunakan ilmu ekonomi
untuk bangkit dari krisis dan menimbulkan masalah unfinished symphony trickle
down. 1997 kita menggunakan pendekatan ilmu sosial politik dan menghasilkan
mesin demokrasi yang tidak efektif dan efisien. Demokrasi transaksional “kalau saya mendukung, lantas akan mendapat
apa”. Penegakan hukum juga bukan proses sekali jadi. Menaikkan electoral threshold, tanpa diimbangi
visi dan misi yang jelas akan menciptakan oligarkhi baru. Aksi turun jalan juga
tidak membuahkan apa-apa. Menghidupkan
UKM dalam situasi resesi dunia menimbulkan masalah pemasaran ekspor sehingga
fondasinya harus tetap berada di pasar dalam negeri.
Berharap pada
peran institusi agama cukup beralasan karena sebagai LSM / NGO mempunyai peranan
yang mencakup mulai dari mengatur bagaimana menjalani kehidupan spiritual
sehari-hari sampai mempunyai relasi internasional, namun baru bisa kalau berhasil
membangun harmoni di tubuhnya sendiri misalnya mengatasi perbedaan aliran dan
komunitas antar agama.
Dengan percaya pada adanya jiwa yang
abadi, seharusnya menjadi pelopor dan inspirator dalam menyelesaikan perbedaan
dengan cara dialog tanpa kekerasan karena itu jauh lebih tinggi dari pandangan
sekuler sebatas menghormati hak asasi. Mestinya kita khawatir arwahnya akan
dengan berbagai cara berusaha membalas dendam.
Bagi yang merasa mengemban misi suci
memimpin peradaban, perlu menyadari bahwa jumlah penganut agama apapun belum
pernah ada yang bisa mencapai 50 % dari
penduduk dunia yang selalu bertambah menurut deret ukur. Apalagi diramalkan
tahun 2045 penduduk dunia menjadi 9 milyar. Jalan masih sangat panjang untuk
bisa meyakinkan yang lain atau bahkan bisa dikatakan tidak realiistis kalau
memaksakan nilai-nilai yang dianutnya pada orang yang berkeyakinan lain.
Apakah tidak lebih baik melalui dan
memperkuat usaha bersama dan beriman bahwa pada akhirnya “ratusan sungai akan
bergabung menjadi samudera”, untuk menjawab tantangan peradaban yang demikian
kompleks seperti dirumuskan dalam Millenium
Development Goals MDGs (Lihat “Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban”) : 770 juta penduduk dunia yang masih buta
huruf, satu milyar lebih masih berada di bawah garis kemiskinan, mencegah
perubahan iklim, distribusi keadilan, bisa hidup damai bersama orang yang
berbeda keyakinan dan cara dalam
menyelesaikan persoalan. Mengapa tidak konsentrasi pada hal yang paling penting
dan mendasar untuk membangun peradaban yaitu
menjadi seperti pupuk yang hanya mempunyai tujuan tunggal yaitu
menghasilkan buah yang lezat justeru karena tidak berasa pupuk lagi ? (TDL hal 756)
“Meski debu emas sangat
berharga, kalau masuk ke mata,
Jalan TOL pun nampak sempit,
apalagi kalau pikiran kita yang kelilipan”
Yang pasti setiap hari kita harus
makan, mulai dari lahir, menjadi dewasa, tua lalu sakit-sakitan dan akhirnya
meninggal dunia, semuanya membutuhkan
biaya. Biaya listrik, uang sekolah untuk
anak, bahan bakar, pulsa tilpon sellular, pajak dan sebagainya harus dibayar
supaya tidak diputus atau didenda. Lalu darimana uang bisa diperoleh ?
Rakyat harus mempunyai pekerjaan dan
penghasilan yang tetap untuk membiayai semua ini. Karena itu negara mempunyai
tugas menyediakan lapangan pekerjaan dan pelatihan supaya rakyat bisa masuk ke
dalam dunia kerja. Pendekatan
transdisipliner adalah cara untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan.
Melihat Krisis sebagai Peluang
Lantas untuk krisis yang kini giliran melanda negara ‘maju’ dan
kita mendapatkan dampaknya (baik positif dan negatif), harus menggunakan
paradigma yang mana ?
Krisis adalah gabungan kondisi sangat berbahaya (di atas ada petir -
di bawah ada ular) dan peluang
(sesuatu yang besar tertutup tirai dan kunci yang harus ditemukan} (TDL hal
743)
“Orang tidah bisa ram-ram-ram
kalau perutnya kosong”
“Bagi yang kelaparan, Roti adalah Tuhannya ;
Karena itu harus tersedia di setiap rumah”
(Mahatma Gandhi)
“Semua bisa menunggu, kecuali pertanian”
(Jawaharlal Nehru)
Kaligrafi Aksara Kanji (TDL hal 274)
“Harmoni”, gabungan tanaman biji-bijan dan mulut
“Makan“ gabungan manusia dan baik, makan harus membuat manusia baik karena itu makanan dan obat adalah
ibarat dua sisi dari mata uang yang sama.
Ditambah “bertengkar”, menjadi Nasi :
Meski orang baik (berkat
sudah dididik), kalau tidak ada nasi,
akan bertengkar
“Setelah minum air ingat akan
sumbernya – Setelah makan, ingat siapa yang membuatnya”
“Apa yang kita makan dan minum adalah buah hasil kerja demikian banyak
orang dari berbagai
suku bangsa, kepercayaan dan keyakinan”
Jalan Kemanusiaan Universal
“Ketika anak kecil atau orang
biasa melihat anak yang akan jatuh ke sumur, ia tidak bisa acuh saja, tapi
merasa cemas dan kasihan. Kemanusiaannya membentuk satu tubuh dengan anak itu.
Ketika ia melihat tangis kasihan dan raut ketakutan burung atau binatang yang
akan disembelih, ia tidak tahan merasakan “ketidakberdayaan mereka menanggung”
derita. Ini menunjukkan kemanusiaannya membentuk satu tubuh dengan burung dan
binatang. Ketika ia melihat tanaman yang dipatahkan dan dihancurkan, ia tidak
tahan merasa kasihan. Ini menunjukkan, kemanusiaannya membentuk satu tubuh
dengan tanaman. Bahkan ketika ia melihat ubin dan batu diremukkan dan
dihancurkan, ia tak tahan merasa menyesal. Menunjukkan kemanusiaannya membentuk
satu tubuh dengan batu dan ubin. Itu berarti bahkan pikiran orang kecil
sekalipun pasti memiliki kemanusiaan yang menyatu dengan semua mahluk” (Wang Yangming 1472-1529).
Ketika
manusia mengurangi keinginannya untuk mengganggu orang lain, dengan
sendirinya KeTuhanan akan menampakkan
dirinya.
“Jangan melakukana sesuatu pada
orang lain,
apa yang kamu tidak mau orang lain
melakukan hal itu kepadamu”
Pengalaman
Fritjof The Tao of Physics Capra ketika di suatu senja duduk di tepi pantai dan
mengamati ombak samudera Pacific. Tiba-tiba merasa bahwa dirinya juga sedang ikut
menari bahkan bersama seluruh alam semesta dalam Tarian Energi Kosmis dengan
irama mirip yang diamati setiap hari di
laboratorium fisika energi tinggi seperti pendulum YIN –YANG dan oleh
kepercayaan India disebut Tarian Shiva Nataraja – Sang Dewa Penari.
“Di semua lingkup
gerak alam, kita
menemukan sistem-sistem kehidupan yang bertengger pada
sistem-sistem kehidupan lain. Jaringan – Jaringan bergantungan pada jaringan lain. Batas-batas sistem kehidupan bukan merupakan
batas pemisah, melainkan hanya batas – batas identitas saja. Semua sistem kehidupan berinteraksi satu sama
lain dan saling berbagi sumber daya melewati batas-batasnya”. (Fritjof Capra)
Kalau
ini tujuan kita menyelenggarakan pendidikan, maka dengan sendirinya tidak akan
muncul diskursus Pro vs Kontra tentang Sekularisasi dan Sekularisme sehingga
lagi-lagi kita tidak akan membuang waktu dan pikiran untuk membahasnya.
Adakah Isolated Self dan Kebahagiaan / Penderitaan final dan eksklusif ?
Ketika melihat betapa dahsyatnya
dampak dari perubahan iklim, pencemaran lingkungan, masalah kecukupan dan
keamanan pangan, mengatasi masalah narkoba dan sebagainya. Tidak ada satu pihak
yang bisa mengatasinya sendiri kecuali bekerjasama. Mungkin kita bisa mengatasi persoalan untuk
diri sendiri dan anak yang berada langsung dalam span of control, tapi
bagaimana dengan cucu, cicit, canggah kita ....dan seterusnya. Apakah ada orang
yang bisa merasa bahagia untuk drinya sendiri semata di akhirat kelak ? Ketika
mengalami penderitaan saat hidup di dunia, mencari media massa untuk
disebarluaskan supaya ada yang perduli !
Ada berbagai cara pandang mengenai
hal ini, misalnya kearifan Yunani dalam kisah Promoteus yang diam-diam membawa
keluar tungku api eksklusif hanya untuk dirinya dan tidak diperkenankan dibawa
keluar dan demi menghangatkan kehidupan di dunia yang sedang dilanda
kedinginan, lalu menyerahkan pada Heraklitus, Bapak Ilmu Pengetahuan. Syiva
Nataraja, Dewa Ilmu Pengetahuan budaya India yang terus menari untuk
memperbaiki kehidupan. Dalam budaya Jawa adadewa yang meniitis menjadi rakyat
biasa dalam tokoh Semar yang menjadi pamong Pandawa. Ada Bodhisatva yang menunda masuk nirvana dan
berjanji hanya mau masuk sebagai yang terakhir setelah semua mahluk masuk
nirvana bahkan sampaimau menguras neraka dulu.
Bahkan Tuhan Sang Pencipta sendiri mengirim utusan sebagai Nabi malahan
ada yang percaya sampai menjadi Manusia.
Kalau semuanya bisa betrsinergi akan bisa memajukan peradaban. Pencipta yang
transenden menunggal bersemayam di Hati manusia yang baik.
Memperkuat Manusia dan Kemanusiaan “Angin Topan dan Pohon Nyiur”
Manusia yang dilahirkan begitu saja
tanpa kemauannya sendiri dan dipersiapkan terlebih dulu ini harus mengarungi
samudera masalah yang dari harike hari semakin rumit dantak bisa dihindari.
Kita tidak bisa memperbaiki apa yang ada di luar dan tidak terjangkau oleh
kemampuan kita keculai mulai dari diri kita sendiri. Satu-satunya jalan yang
bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja adalah merubah cara pandang dan
meilhat semua itu dengan metafor seperti “Angin Topan dan Pohon Nyiur”.
Betapapun besarnya angin topan tak akan pernah bisa menumbangkan pohon nyiur
yang melambai-lambai, yang tidaada lain adalah membina diri !
Menemukan Matahari-Awan-Gunung dan sebagainya di dalam sekuntum bunga
Kalau kita mengamati sekuntum
bunga,makakita menemukan matahari nun jauh di sana karena tanpa keberadaannya,
tidak mungkin ada bunga. Juga awan yang menari di Langit, cikal bakal hujan
setelah bertemu dengan gunung. Cacing, kupun-kupu, semut, pupuk, petani dan
sebagainya yang terkait dengan bunga. Di dalam bunga dan manusia yang bermutu
dan mulia, kita menemukan Penciptanya. Karena itu setiap manusia mengemban
amanah menjadi manusia paripurna
CREATIVE
SELF TRANSFORMATION
• Learning to be Human
• Learning for the sake of the self
• Self is not as isolated atom
• Self is not as single, separate individuality
• Self as a being in relationship
• Self as centre of relationship
• Self develops continuously
• Ever – expanding process
• Ever- growing network of human relatedness
• A truly Self realization
(TU Weiming)
Mengejar ilmu pengetahuan karena dianggap sebagai kekuasaan the love of power, jika tanpa diimbangi
oleh self transformation, sehingga menjadi the
power of love, akan menjadi malapetaka bagi dunia dan juga dirinya sendiri.
Bukan Kedaulatan Pangan, tapi Meringankan Beban Pangan Dunia
India dan China dengan total jumlah
penduduk hampir 50 % penduduk dunia, dengan berhasil swa-sembada pangan, sudah
berarti menolong dunia dari bahaya krisis pangan.
Indonesia, sebagai negara tropis
nomer 2 terbesar di dunia setelah Brasilia (selebihnya sahara di Afrika) seyogyanya
bisa menjadi seperti mereka, apalagi kalau bisa ikut memberi makan dunia “feed
the world” karena seperti ditegaskan Bapak Bangsa Soekarno mempunyai
Weltanschauung. Mensyukuri anugerah Sang Pencipta pada bangsa Indonesia dalam
bentuk slogan “kedaulatan dan kemandirian pangan” tanpa diimbangi dengan
kontribusi pada memelihara dunia hanyalah kepanjangan dari sikap Selfish malahaan
lebih buruk karena memberi predikat pilih kasih.
Mengajar Hidup Sehat vs Mengobati Setelah Sakit
Selama ini Pertanian diberi tugas
menyediakan bahan pangan yang cukup.Tapi kalau mutu tanaman pangan setempat
rendah, maka kesehatan penduduk sekitarnya juga
rendah. Kalau kandungan mineral dalam lahan pertanian minim dan defisit
unsur tertentu, di dalam pangannya juga sama.
Mengurus pertanian dengan baik sebenarnya awal membangun kesehatan. Ada hidden
connections antara pertanian, kesehatan dan pendidikan. Departemen
Kesehatan, tugasnya mengobati orang yang sakit,
mengatur kebutuhan dokter dan perawat, mendirikan rumah sakit, pusat
kesehatan masyarakat, menyediakan obat dan sebagainya. Departemen Pendidikan
diberi tugas mendidik sumber daya manusia untuk semua departemen. Pekerjaan
yang kait mengkait dipecah-pecah menjadi bagian-bagian lalu ditempel-tempel
sehingga hasilnya ibarat menunggang kuda
mati karena totalitas bukan penjumlahan bagian tapi interplay secara keseluruhan. Tugas utama departemen kesehatan adalah
mengajar bagaimana hidup sehat supaya tidak jatuh sakit. Ini baru naik kuda hidup ! Sudah saatnya pengetahuan
tentang mengobati orang yang sakit (pendekatan klinis) dimanfaatkan menjadi
promotif dan preventif.
Pemerintah sudah
menyadari hal ini sehingga kalau selama ini hanya mempunyai POSYANDU (Pos pelayanan Kesehatan
Terpadu) yang utamanya untuk ibu dan anak, sudah ditambah POSBINDU (Pos Pembinaan Kesehatan Terpadu) memberikan pelayanan
pada remaja – dewasa dan lansia mulai dari tingkat Rukun Warga dalam bentuk
Kesehatan komunitas dengan tujuan memupuk kesadaran komunitas untuk menjaga
kesehatan (preventif) secara swadaya dan swadana.
“ Hungry man is angry man” -
“You are what you eat”

Dalam aksara Arab, kuliah
berarti universe /totalitas, sedangkan ayat adalah bagian. Universitas telah
direduksi menjadi kumpulan ayat / spesialisasi
dan masing-masing mengklaim sebagai kuliah. Pada hal totalitas bukan
penjumlahan tapi interplay bukan
hanya antar komponen termasuk dengan sekelilingnya. Karena itu kuncinya adalah menemukan hubungan
tersembunyi the hidden connections dari
semuanya. Universitas bisa seperti
bermain Total Foot Ball dalam mengatasi masalah masyarakat di zaman yang terus
berubah seperti tarian abadi Syiva Nataraja untuk memperbaiki seluruh alam semesta.
Dalam aksara kanji juga
sudah ada penjelasan posisi manusia dalam masyarakat dan alam semesta.

Manusia + angka dua = kemanusiaan
Manusia + gunung = orang bijak
Belajar dari falsafah benih “Mengelola Koleksi Obyek vs Komunitas
Subyek”
Prof. Sjamsoe’oed Sadjad dalam buku “Revitalisasi Pertanian
dan Dialog Peradaban” menjelaskan sebagai berikut :
•
Benih
/ biji yang seolah seperti benda mati (tidak dapat berpindah tempat sendiri),
ternyata mahluk hidup yang mengemban tanggungjawab besar dalam kehidupan
spesiesnya. Benih adalah simbol kehidupan, meski harus melalui jalan yang
panjang.
•
Dia
diberi perlengkapan seperti sayap supaya
bisa tertiup angin hingga “terbang” jauh menyebarkan spesiesnya.
•
Diberi
“bungkus” berserat supaya mengambang terbawa arus air dan terdampar jauh dari
induknya danmenyebarkan spesiesnya.
•
Diberi
“baju” yang tebal dan keras supaya bisa tetap “beristirahat seperti mati
suri”kalau udara terlanpau dingin untuk
tumbuh. Sebab kalaupun tumbuh dia akan mati dan keturunan spesiesnya
akan punah.
•
Diberi pemanis yang menarik atau
bau yang merangsang sehingga bisa menarik binatang untuk dibawa pindah ke lain
tempat.atau bahkan sampai di pangkal cabang tumbuhan lain dimana bisa tumbuh di
situ karena terjamin makanannya.
•
Dia bisa tetap dalam buah dan
dimakan binatang yang menyukainya, masuk ke dalam perut bintang dan dicerna
hingga saatnya dikeluarkan sebagai tinja dan dijatuhkan dimana saja.
•
Atau mempunyai alat pengait pada
kulitnya sehingga bisa tersangkut pada bulu binatang atau celana manusia dan terbawa kemana-mana.
•
Mempelajari rahasia benih, kita
akan memahami bagaimana Sang Pencipta memelihara dan memberi makan seluruh
ciptaanNya. Itulah ilmu yang diperlukan bagi mereka yang mempersiapkan diri
menjadi pemimpin !
Membangun Pertanian harus berbasis
penelitian, pendidikan dan penyuluhan.
Kinerja perguruan tinggi pertanian dalam keseharian lebih banyak dengan
masalah pertanian. Sedangkan secara struktural berada di bawah Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan. Karena itu harus ada sinergi antara keduanya.
Dari Tarian Benih – Agronomi - Pasca Panen sampai
tersaji di meja makan
Semuanya saling
kait mengkait sehingga harus saling menunjang dan sama pentingnya tanpa ada
pilih kasih. Meski tangan kanan kita melakukan semua hal yang penting
dibandingkan tangan kiri, tapi tidak merasa superior dan minta diistimewakan.
Ketika tangan kiri memegang paku dan tangan kanan dengan palu memukul tapi
salah pukul sehingga melukai tangan kiri, maka segera membuang palunya dan
menyelamatkan tangan kiri. Meski ujung kaki kita jauh dari otak yang merasa
sebagai ‘pusat’, kalau tersentuh benda tajam atau panas, akan spontan ditarik.
Ketika India mulai
berhasil meningkatkan produksi gandum untuk mengatasi kelaparan, tapi bijinya
berwarna merah, ternyata sambutan rakyat kurang karena makanan rakyat chapatti
biasanya dibuat dengan biji gandum warna coklat ke kuning-kuningan. Dibantu
oleh ilmupengetahuan dan teknologi, akhirnya warna varietas biji gandum bisa
diubah.
Makan dan aktualisasi potensi manusia
Makan, bukan sekedar mengisi perut
dan memberi asupan gizi tapi gerakan multi dimensi. Rahang mengunyah, sekresi air
liur, getah lambung, gerakan peristaltik usus sampai otot dubur berkontraksi. Bilamana
manusia diberi makan bergizi dalam kapsul, akan terjadi deformasi bentuk wajah
dan sistem sekresinya akan hilang “use it
or loose it” Kesatuan
gerak ini harus jalan terus menerus sehingga kita tidak bisa makan sekali untuk
beberapa hari. Setelah masuk ke dalam perut manusia, terjadilah tarian
bio-kimia yang akan menentukan mutu manusia / hewan yang memakannya.
Pertanian dan Infrastruktur
Pertanian memerlukan sarana irigasi,
pupuk, transportasi supaya bisa sampai
ke meja makan. Karena itu memerlukan dukungan lintas departemen.
Pertanian dan Perdagangan
Diperlukan dukungan kebijakan
perdagangan dalam negeri maupun menghadapi impor karena produk pertanian
merupakan bagian dari issue perdagangan bebas.
Masalah hubungan Ketenaga Kerja
Upah akan selalu mnjadi issue
industrialisasi. Kenaikan upah adalah sesuatu yang tidak bisa dihndarkan. Bila
disertai dengan meningkatnya produksi, maka bisa malah memperkuat daya beli
masyarakat. Kalau bisa sehat sampai pensiun akan memperkuat tabungan nasional
dan bisa digunakan untuk memutar roda perekonomian nasional.
Mencintai produk dalam negeri
Banyak dianjurkan tapi bagaimana
mendidiknya masih belum jelas. Dalam
sistem perdagangan bebas harus bersaing dengan
produk luar yang mempunyai dan kemampuan untuk membangun citra melalui
meda iklan.
Kenaikan pendapatan rakyat dan penyakit akibat perubahan pola makan
Selama ini dianggap sebagai tujuan
pembangunan, tanpa disadari akan membawa serta penyakit yang biasa diderita
oleh kelas atas karena pola makan berubah seperti diabetes, stroke dan
sebagainya pada orang yang sebelumnya jarang terjadi. Biaya perawatannya cukup tinggi dan akhirnya
negara juga yang harus membayar.
Kesehatan Jiwa
Penderita penyakit psychogenic terus
meningkat menurut deret ukur. Jumlah penderita yang bisa direkam seperti gunung
es hanya nampak sebagian kecil saja. Padahal ketersediaan spesialis bertambah
melah lebih lambat dari deret hitung. sehingga jauh dari memadai. Karena itu spesialis kesehatan jiwa
sebaiknya diarahkan untuk membimbing masyarakat pada hal preventif supaya bisa
menghindari dan menolong dirinya sendiri.
Menteri Pertanian dan Menteri Pendidikan & Kebudayaan (Lihat TDL hal 747)
Ketika perut manusia sudah kenyang
dan tubuhnya dibalut pakaian hangat, maka sifat binatangnya (menjadi malas)
akan kembai muncul. Karena itu diperlukan pendidikan etika supaya yang di atas
menjadi teladan !
Cara mengabdi kepada Negara
Ketika ditanya bagaimana saya bisa
mengabdi kepada negara, Sang Guru menjawab: “Uruslah dirimu dan keluargamu
dengan baik , itulah cara untuk mencintai dan mengabdi kepada negara !”
Tsunami buatan manusia, buah sistem pendidikan yang tidak tepat
20 % APBN sudah dialokasikan untuk
pendidikan. Tapi kalau menghasilkan manusia yang hanya mau tahu disiplin ilmu
yang dipelajari saja, apalagi kalau Self nya tidak bisa berkembang atau malahan
menjadi Selfish, maka 10 (sepuluh) tahun lagi, kita akan sibuk mengurus manusia
yang bertengkar, bukan bekerja dan bekerjasama. Dampak tsunami buatan alam,
meski demikan dahsyat, cakupannya terbatas. Tsunami buatan manusia sebagai akibat
pendidikan akan dilanjutkan turun temurun.
Ini adalah akibat cara pandang yang
sekarang sedang terjadi yaitu : kumpulan fakultas (bahkan cluster) disebut
Universitas. Sedangkan yang seharusnya adalah : Di dalam Universitas ada
berbagai Fakultas ; Dalam setiap Fakultas mengandung semangat
Unversalitas.
Spirit Menyusun Kabinet
Pengalaman mengadakan dua kali
pemilihan umum dengan sistem yang baru menunjukkan bahwa partai-partai paling
banter hanya bisa mengumpulkan sekitar 20% suara sehingga harus berkoalisasi
dengan partai lain untuk memimpin DPR. Kondisi ini akan mengimbas ke susunan
kabinet. Akan selalu terjadi kombinasi antara zaken kabinet dan koalisi partai
pendukung pemerintah. Diperlukan
kepemimpinan yang bisa mengelola kondisi ini. Yang paling penting adalah
memahami hubungan keterkaitan antar departemen yang satu dengan yang lain,
bukan hubungan transaksional sebagai pertimbangan !
“Education is the ability to
perceive the hidden connections between phenomena”
(Vaclav Havel)
Dalam
ilmu statistik dikenal sebagai memahami underline
distribution yang sangat penting untuk memahami nature dari suatu masalah. Kalau masalahnya saja belum jelas,
bagaimana kita bisa memberikan solusinya ?
Ketika masyarakat menghadapi
globalisasi yang menari seperti layaknya seekor gajah liar, dan bertanya pada
Unversitas, jawaban yang muncul adalah kumpulan penjaga pilar disiplin ilmu.
Ada yang membawa sepotong kaki (kiri-kanan- depan-belakang), ekor, kuping,
taring, perut dan sebagainya sehingga ketika dirakit yang didapat hanya patung
gajah, bukan gajah hidup. Dalam aksara
arab, dibedakan antara kosa kata “kuliah “ artinya universe atau unity dan
“ayat” artinya particular atau diversity. Kalau ada suatu cara pandang dan asas
yang bisa diterapkan untuk masalah apa
saja, maka itu adalah : “Perubahan dan
Unity in Diversity”
Keanekaragaman itu sekarang
jauh lebih kompleks, dahsyat dan bersifat nir-kabel
dibandingkan di masa lalu pada saat E. Pluribus Unum diputuskan untuk menjadi
pilar negara Amerika Serikat dan Pancasila dasar negara Indonesia dirumuskan
yang masih berbentuk hubungan kabel
antar kelompok seperti daerah, etnis, budaya dan agama/kepercayaan. Dengan
adanya teknologi sellular yang harganya semakin terjangkau sampai lapisan
bawah, maka setiap orang bisa menjadi penerima berita (receiver) dan pada saat
bersamaan menjadi sumber (produser) dan menyebarluaskan berita (transmitter).
Ini menembus dan menggoncangkan hubungan kabel antar lembaga-lembaga formal
seperti Trias Politica yang membagi-bagi kekuasaan menjadi Legislatif
–Ekesekutif – Yudikatif ditambah pilar ke-empat demokrasi yaitu media massa,
menjadi amorph karena bersifat People to People yang cair. Pengaruh ini bahkan masuk sampai keluarga
inti sehingga ketika sedang berkumpul di meja makan bisa terjadi: yang jauh
menjadi dekat – yang dekat menjadi jauh, ketika salah satunya menggenggam
komunikasi sellular.
Ini
masih ditambah dengan berbagai Komisi Nasional yang dilindungi PBB seperti pada
anak, wanita, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya. Karena itu lembaga
seperti partai, organisasi keagamaan, bisnis, militer dan sebagainya tidak ada
yang bisa menghindar untuk ditembus era teknologi informasi.
Peran
media semakin dominan dalam mempermainkan mind-set masyarakat karena sifat
manusia yang mudah lupa dan tertarik pada yang baru serta serba huah.
Karena
itu diperlukan Lembaga yang mengkhususnya untuk mempelajari “Unity in
Diversity” dan ilmuwan yang seperti Newton ketika melihat planet-planet
bertebaran di angkasa raya namun bisa terjadi tabrakan dan menemukan
hukum-hukum yang menggerakkannya dan Fritjof Capra dalam buku The Tao of
Physics. Akan terjadi kelahiran baru setelah era genesis yang bersifat fisik
(the without) menuju noo-genesis yang bersifat kesadaran (the within) yaitu Era Konvergensi
Perguruan Tinggi Pertanian -
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian – Kementerian Riset dan
Teknologi harus bekerja sama “From Lab to Lab”, kemudian “From Lab to Land”
lalu “From Land to Land”
Berguru ilmu memahami “hidden
connections of all phenomenas” pada Pendekar Buta
Kalau perhatian diarahkan ke depan,
di belakang lemah - Kalau di kiri, sebelah kanan lemah - Kalau ke atas, di
bawah lemah, demikian pula sebaliknya”. Pendekar buta bisa melihat dengan
‘telinga’ dan mendengar dengan ‘hati’, sehingga bisa membedakan antara manuvre
dan serangan sesungguhnya. Energinya berlabuh dengan tenang beberapa centimeter
di bawah pusar dikenal sebagai Titik Tan Tiem. Kondisi otaknya dalam Rekaman
EEG berada di Gelombang Alfa :
menyatu dengan seluruh alam semesta, menjadi manusia yang damai dulu supaya
bisa mendamaikan pertengkaran yang ada diluar dirinya !
Mensosialisasikan hubungan keterkaitan ini dengan sendirinya
akan merubah sikap fanatisme menjadi lunak dan kooperatif sehingga terjadi
proses de-radikalisasi, tidak dalam bentuk semacam ‘cuci otak’, tapi secara
alamiah dan manusiawi. Orang akan malu setelah tahu bahwa apa yang dimakan
adalah hasil dari jerih payah begitu banyak pihak yang sangat beragam.
BAB I : Hubungan Keterkaitan
Transdisipliner
- Belajar
dari negara adhidaya pertanian dan pangan (China, India dan AS), hasil
seminar internasional pangan tgl 29 Oktober 2011 di Bogor.
- “Pertanian
: Dari sekedar urusan logistik menjadi cara pandang holistik”, Dr Asep Saefuddin, IPB
- ”Perkebunan
dan Membangun Budaya Sehat”, Dr Didiek H Goenadi, PT Riset Perkebunan Nusantara
- “Pendidikan
Teknologi dan Inovasi dalam Menyiapkan SDM Industri Kelapa Sawit Indonesia
yang Berkelanjutan”, Prof. Dr E.
Gumbira Sa’id IPB
BAB II Arah Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan
Lit Bang Pertanian)
5.
Zoning perbenihan berdasarkan
kondisi Bumi dan agroIklimat
6. Tanaman untuk Pangan – Kesehatan – Obat dan sebagainya
7. Teknologi Pasca Panen. Ini penting sekali karena
dengan perbahan iklim menjadi tidak menentu maka setelah panen harus segera
diikuti dengan teknologi pengolahannya sehingga tidak rusak oleh perubahan
cuaca. Hasil Pasca Panen akan menentukan GMP supaya bisa lulus uji Badan POM.
8.
Prof. Dr Damarjati (pendiri Balai Besar Pasca Panen),
Dr Sri Yuniani dan DR Ir Sri Widowati akan membeikan kontribusi dan tema
menyusul
BAB III Pangan dan Kesehatan
9.
Pangan Lokal dan Kesehatan (Ir Priyo Atmaji, BPPT)
10. Penyediaan Protein berbasis Ikan dan Ternak (Dr Irvan Faizal, Ir Nenie Yustiningsih M.Sc, BPPT)
11. Protein Nabati perlu dikembangkan karena ternak ternyata mempunyai
andil besar dalam pemanasan global.
12. Obat alami dan Penyakit degeneratif (Dr Bambang Marwoto, Apt, BPPT)
13. Pengembangan Pupuk Hayati untuk Tanaman Bio-organic (Dr Agus Masduki, BPPT)
14. Pemanfaatan Pakan Ternak Ramah Lingkungan untuk Mengurangi dampak
Pemanasan Global (Prof. Dr Herdis dan
Dimar Sri wahyuni, S.Pt)
15. Keamanan Pangan dan Kesehatan (Drs
Tarwadi M.Si, BPPT)
16. Industri Pati untuk Kesehatan (Ir
Bambang Triwiyono,M.Si dan Ir Bambang Srijanto, BPPT)
17. Merentas Tantangan Industri Obat Alami Nasional (Dr Lystiani Wijayanti, BPPT)
18. Kearifan Lokal dan kesehatan, (Maria
Dian Andriana, LKBN ANTARA)
19. Spesies Daun nicotiana tabacum (tembakau)
dalam olahan makanan, Dr Anwar Wardy W,
Neurolog Universitas Muhammadiyah Jakarta.
20. Peranan Industri Pangan Bijak untuk Konsumen Sehat, Prof. Dr Purwiyatno Hariyadi, IPB
21. Menumbuhkan Kesadaran dan Meningkatkan Kemampuan
dalam GMP Good Manufacturing Process UKM
bidang Pangan (direkomendasikan Dr Lilis Nuraida, IPB)
22. Peran Badan Pengawas Obat dan Makanan “lessons learnt” dari pengalaman masa
lalu , Prof.
Dr Winiati P. Rahayu, Dept. Of Food Science and Technology, IPB
23. Fortifikasi dengan Micro – Nutrien.
24. Seni Kuliner berorentasi Kesehatan
25. Makanan Sehat dan Halal, Dr
Jaenal Aripin, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
26.
Titian
Kemandirian Obat Nasional, Visi
Progresif CEO BUMN Farmasi
BAB IV Visi Baru Membangun Kesehatan Badan
- Peran
Kombinasi Stimulasi dan Nutrisi Selama Hamil Terhadap Kualitas Generasi Mendatang Indonesia Dr dr Hermanto TJ Sp OGK
- Kantin Sekolah untuk Keamanan Pangan : Prof.Dr Fransiska Rungkat
–Zakaria IPB
- “Pemberian Gizi pada saat Periode Emas “, Prof. Dr Hardinsyah IPB
30.
Pendidikan
Gizi dalam Keluarga dan untuk para Guru Sekolah, Dr Risa Kolopaking, Fak Psikologi UI
31. Meningkatkan konsumsi susu,
membangun kesehatan - peternakan – pertanian dan ekonomi pedesaan lesson learnt dari White Revolution
India, Dr Ahmad Syafiq (FKM-UI)
32. Mungkinkah mengembangkan Industri
Madu Rakyat seperti susu ?
33. Mengatasi Penyakit akibat kekurangan
/ kelebihan Gizi, Drupadi Dilllon Ph.D,
Commmunity Nutrition Wageningen.
34. Terapi Regeneratif Masa Depan, Ilmu
Pengetahuan, dan Nilai-nilai Kecendekiaan-
Ika Dewi Ana, drg., PhD. (Grup Riset Rekayasa Jaringan, Fakultas Kedokteran
Gigi, Universitas Gadjah Mada)
BAB V MENGUPAYAKAN KESEHATAN JIWA
35.
Tinjuauan
Psikologis Perubahan Pola Hidup dan Penyakit yang menyertai sebagai akibat
peningkatan pendapat, Prof. Dr Enoch
Markum, LPPsi Universitas Indonesia
36. Lansia dan Mengatasi Penyakit
Degeneratif (Prof. Dr Clara Kushart, Fakultas Ekologi Manusia - IPB)
“Meski hidup sejahtera secara material, kita hanya bisa makan 3 x sehari ; lebih dari itu malah menjadi penyebab sakit;
meski bisa beli ranjang super kingssize, setelah tidur nyenyak ternyata yang
terpakai hanya single size ”
37. Anthropology Kesehatan : Dr Semiarto A. Purwanto FISIP-UI
38. Dari Hospital menuju Community
Base Pemeliharaan Kesehatan: Dr Dumilah
Ayuningtyas FKM –UI
39. Dari Hospital menuju Community
Base Pemeliharaan Kesehatan dalam persepktif Kesehatan Jiwa : Dr Pandu G. Setiawan Sp.KJ
40.
Budaya
Perusahaan “Masuk Sehat – Pensiun Sehat” : Dr
Bagus Takwin dan Tim LPPsi UI
BAB VI Budaya Nusantara dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
41. Meneliti olahraga dan Kesenian dalam perspektif kesehatan psikis,
neurosains dan pendidikan: Dr Bagus
Takwin dan Tim LPPsi UI
42. Peranan industri asuransi kesehatan dan kebijakan naik Kuda Hidup
43. Hubungan Industrial Pekerja dan Pengusaha
44. Menumbuhkan industri kreatif pelatihan hidup sehat “Masyarakat Bertanya – Perguruan Tinggi Menjawab”.
BAB VII Mempersiapkan Mengikuti Perubahan
- “Perubahan
dan Neuroplastisitas” , Dr dr
Taufiq Pasiak, C.NET UIN Sunan Kalijaga
- “Aku – Kami – Kita”, Prof. Sarlito W Sarwono, UI
(berdasarkan tulisan di Kompas tgl 5 Januari 2012)
- Interfusing
body and mind – Neurologi dan “Unity
in Diversity”, Dr. Jan S. Purba PhD,
Departemen Neurologi, FK UI.
- Interfusing
body and mid – Psikologi dan “Unity
in Diversity”
- Interfusing
body and mind – Psikiatri dan “Unity in Diversity”
- Interfusing
body and mind – Psikoneuroimunology dan “Unity in Diversity”
“Psyche dan fisik hidup dalam dunia yang
sama, dan masing-masing saling mempengaruhi, sehingga kalau tidak maka aksi
timbal balik tak akan terjadi. Jika penelitian ilmiah ingin maju lebih jauh,
kita akan sampai pada kesepakatan akhir antara konsep fisik dan psyche” (Carl Gustav Jung).
Para ahli telah mengetahui bahwa
kaitan antara mind-body sangat erat. Hal ini telah diketahui sejak pengamatan
Galen (200 AD), bahwa prempuan melankolis lebih rentan terkena kanker panyudara
dan infeksi. Robert Ader yang mengikuti aliran aliran behavioris menyatakan
bahwa kaitan antara perilaku, fungsi sistem neuroendokrin dan imunitas sedemikian kuat dan kondisi ini
melahirkan kajian Psikoneuroimunologi (Suhartono
Taat Putra)
51. Sinergi Pancaindera dan Vestibuler (saraf keseimbangan) dengan
Teknologi Penginderaan dalam ilmu kedokteran,
‘Hearng is media for curing’ - ‘Namun
kalau tanpa hati, meski mendengar tapi tidak kedengaran – Meski melihat, tidak
kelihatan’, Dr Nyilo Purnami, FK – Universitas Airlangga
52. “Manajemen Universitas : Hidden Connections antar Fakultas”, Tim Fakultas Psikologi Universitas
Pancasila.
53. “Pendidikan
Tanpa Sekolah”, Dr Totok Soefijanto,
Universitas Paramadina.
BAB VIII THE DANCING LEADER :
·
Kalau lahir alamiah, bagaimana
bisa meresponse perubahan semesta yang terus menerus terjadi secara serentak dan
kait mengkait semakin kompleks ?
·
Kalau harus menunggu utusan dari
sesuatu di luar sistem, akan menimbulkan masalah pilih kasih dan kalau
jumlahnya banyak, bagaimana bisa terjadi ?
·
Kalau bisa dididik dan dilatih,
lantas bagaimana caranya ? Jawabannya
adalah semua orang harus terus belajar sehingga mencapai PENCERAHAN yang sesuai
dengan kapasitasnya masing-masing.
·
Diharapkan muncul tulisan dari kalangan Sekolah
Kepemimpinan
“Ketika berada di depan, memberi teladan;
Ketika di tengah, membangun
motivasi
Ketika di belakang, memberikan
dukungan dan semangat”
(Ki Hadjar Dewantara)
54.
Pengembangan
Model “ Seleksi dan Rekruitment SDM
berkualitasmelalui Kepemimpinan Efektif, Dr
Gunawan
BAB IV Membuka Peluang Pasar International “Unity in Diversity”
Alam semesta yang menari bersama dalam satu kesatuan, memerlukankan
prinsip universal “Unity in Diversity”
bahkan lebih dari itu “Unity is Diversity
– Diversity is Unity”. Diperlukan pendidikan kesadaran, pelatihan dan
membuka kesempatan sehingga semuanya bisa ikut berpartisipasi dalam tarian
agung ini. India, China, Amerika Serikat, Indonesia, saat ini sudah berada
dalam konstelasi hubungan yang saling
menghidupi dan membatasi seperti halnya 5 (lima) unsur dalam alam : Kayu – Logam – Api – Air – Tanah. Telah
menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi sbb.:
55. Prof. Dr Azyumardi Azra, Direktur Pascasarjana UIN
56. Prof. Dr John Titaley, Rektor UKSW
57. Dr P. Wiryono, Rektor Universitas Sanata Dharma
58. Prof. Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN
59. Dr Edie Toet Hendratno, Rektor Universitas Pancasila
60. Dr Donny G. Adian, Jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Budaya,UI
61. Dr Ronny Adhikarya, mantan Pejabat World Bank 2003 dan Perwakilan FAO
di Pakistan, Fellow East-West Center Hawaii
62. Dr Yudi Latif, Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila
NB. :
BAB IX akan diterbitkan dalam dua – bahasa karena
akan diluncurkan pada awal September dalam Konferensi International Hubungan
Timur dan Barat di Beijing.
Masih dibuka kesempatan bagi yang ingin ikut
berpartisipasi dalam bab ini.
CATATAN :
“Setelah masa pelapukan di musim gugur dan
seolah berhenti tumbuh di musim dingin, datanglah TITIK BALIK. Cahaya
yang selama ini ditekan, telah kembali.
Ada gerakan tetapi tidak
berdasarkan kekuatan. Muncul secara alamiah dan spontan.
Karena itu peralihan dari yang tua menjadi gampang. Yang
lama ditinggalkan, yang baru diperkenalkan.
Karena keduanya sesuai dengan masa
tidak membuat cedera” (Kitab tentang Perubahan I
CHING)
“Perhatikan pikiranmu, karena akan menjadi kata-kata;
Perhatikan kata-katamu, karena akan menjadi perbuatan;
Perhatikan perbuatanmu, karena akan menjadi kebiasaan;
Perhatikan kebiasaanmu, karena akan menjadi karaktermu;
Perhatikan karaktermu, karena akan menentukan masa depanmu”
(Dalai Lama)
Sampai abad ke 20 peradaban manusia didominasi oleh pandangan :
“Manusia memiiki Bumi dan mempunyai hak untuk menguasai yang terbang di
udara, merayap di darat dan
berenang di air”
“Yang tidak setuju dengan saya adalah musuh saya ;
Yang tidak mau membantu saya memerangi musuh saya, adalah musuh saya;
Yang berhubungan baik dengan musuh saya, adalah juga musuh saya.
Boleh melakukan pre-emptive strike bila menghadapi sesuatu yang
mencurigakan”
“Padahal bagi yang percaya bahwa jiwa bersifat abadi, akan selalu
menghindari kekerasan dan memilih pendidikan dan berdialog untuk menyelesaikan
perbedaan”. Menghadapi roh yang mau membalas dendam
jauh lebih sulit dari yang kasat mata.
“Inilah salah satu alasan
mengapa ada ajaran supaya mencintai bahkan
musuh”
Awalnya dari idea tentang
atom (a-tomos) satuan terkecil yang
tidak bisa dipecah lagi. Persatuan antar atom dikarenakan adanya ikatan kohesi seperti kapur dan papan tulis dan
sifatnya sangat lemah. Kalau mau lebih kuat memerlukan perekat dari luar
(adhesi) .
Kimia Anorganik mempelajari
ikatan electro-valen yang lebih kuat karena antar atom di dalam alam ada yang ingin bergabung karena bermuatan negatif dan positif. Kimia Organik Ikatan yang lebih kompleks dan disebabkan adanya
elektron antar atom yang berada di kulit terluar. Cirinya adalah semakin banyak
unsur yang terlibat, manfaatnya semakin besar.
Fisika kuantum terjadi ikatan berdasarkan getaran sehingga seperti kepakan
kupu-kupu di Amazon bila waktunya tepat bisa mengakibatkan tsunami.
Inilah
spirit Abad 21, semangat konvergensi “One World – One Universe – One Dream”
“Mount Sumeru is in a grain of
mustard, Within it the whole universe is hidden.
Since the world is sick, I feel
sick - Since human is suffering, suffer”
(Vimalakirti)
Meski mengklaim sudah
maju, ternyata peradaban kita masih belum memahami apa arti menjadi “besar”
sehingga mengakibatkan Perang Dunia 1
(TDL hal 581 dan 596) dan “perbedaan pendapat bagi keseluruhan” yang
menjadi penyebab Perang Dingin (TDL hal 581)
Kearifan Jawa “Hamemayu Hayuning Bawana” :
“Cantiknya manusia tergantung
pada cantiknya dunia;
Cantiknya dunia tergantung pada cantiknya seluruh Alam Semesta”
Kearifan Sunda dalam interaksi sosial : “Silih Asih – Asah –Asuh” –
Dalam Hubungan Pusat dan
Daerah : “Daerahnya Pusat – Pusatnya
Daerah”
Menurut Prof. Dr Fuad
Hassan menemukan bahwa neurosis dan psikosis adalah sociosis.
Dari Raja sampai Rakyat Jelata Harus Terus Belajar Sepanjang Hidup
“Orang zaman dulu yang hendak memperbaiki dunia,
Ia lebih dulu berusaha mengatur negerinya.
Untuk mengatur dirinya, ia lebih dulu membereskan rumah tangganya.
Untuk membereskan rumah tangganya, ia lebih dulu membina dirinya. Untuk
membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya.
Untuk meluruskan hatinya ia lebih dulu memantapkan tekadnya. Untuk
memantapkan tekadnya, ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya. Untuk mencukupkan
pengetahuannya, ia meneliti hakikat tiap perkara. Dengan
meneliti hakikat tiap perkara, maka cukuplah pengetahuannya. Dengan cukup
pengetahuannya, akan dapat memantapkan tekadnya. Dengan
memantapkan tekadnya akan dapat meluruskan hatinya. Dengan hati yang lurus
akan dapat membina dirinya sehingga
dapat membereskan rumah tangganya.
Dan setelah itu mengatur
negerinya sehingga tercapailah damai di dunia. Karena itu
dari raja sampai rakyat jelata ada satu kewajiban yang sama yaitu :
Mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok. Adapun
dari pokok yang kacau itu tidak pernah
dihasilkan penyelesaian yang teratur baik. Karena
hal itu seperti menipiskan benda yang seharusnya tebal dan
menebalkan benda yang seharusnya tipis.
Hal
ini sesuatu yang belum pernah terjadi “
(Ajaran Besar / Thay Hak)
“Knowing how things works give
The leader more real power and
ability than
All degrees or titles the
world can offer”
(John Heider,”The Tao of Leadership”)
Aku dan Perjalanan Hidupku (Dandanggula Kijurumartani)
“ Di dalam kita menjalani hidup
ini, sesuai dengan kodratNya
Kita hanya melaksanakan
dharma,kewajiban sesuai kodrat kita sebagai manusia.
Karena itu dalam setiap perbuatan,
kita harus menyadari
Untuk bekerja dan bekerja tanpa
pamrih, bisa diumpamakan ‘makaryo tan akaryo’
Artinya kita berbuat sesuatu tapi
tidak merasa membuat sesuatu dengan mengharapkan hasilnya ‘sepi ing pamrih rame ing gawe’
Semua yang ada ini bekerja, bahkan
Tuhan pun bekerja;
Menghidupi dunia ini tanpa henti,
Matahari, bulan, angin, bumi, air
dan api.
Semua bekerja demi kelangsungan
hidup, dan tanpa pamrih.
Dasarnya hanyalah merasa wajib.
Alam adalah ‘ Ilmu Nyata ‘, kita
wajib meniru Dharmanya”
Spiritualitas semacam ini yang
diperlukan oleh bangsa yang mau membangun peradaban !
Hakikat
Kehidupan adalah “Melatih diri supaya bisa memiliki (to
have) dan pada saatnya bisa melepaskan kembali (to give) , tanpa minta imbalan / Wu-wei” ;
“Tahu kapan datang dan tahu kapan tiba
saatnya harus pergi “.
Bill Gates, Warren Buffet, dan sebagainya sudah mulai memahami tujuan
hidup sesungguhnya tidak lebh dari “Makan tiga kali sehari dan kalau malam bisa
tidur nyenyak”. Lebih dari 3 x sehari malah jadi sakit ; meski di ranjang emas,
belum tentu bisa tidur nyenyak. “Kalau bisa tidur nyenyak, meski di atas dengan
ukuran ranjang super king size yang dipakai
hanya sebesar ukuran single bed”
“Unity in Diversity adalah
peradaban masa depan;
Bagi yang memahami dengan
sendirinya akan memimpin,
Yang belum memahami akan berada dalam posisi
dipimpin.
Yang tidak mau berusaha memahami
akan menjadi masalah masa depan”
Ketika
seorang bijak sedang berjalan di tepi hutan, tiba-tiba melihat seekor elang
menukik dan menyambar induk ayam yang sedang mengais makanan lalu dibawa
terbang sehingga anak-anaknya berteriak kehilangan ibunya. Ia mengejar elang
itu sambl berteriak, “kembalikan dia, kasihan anak-anaknya !” Elang itu
menyahut, “Di sarang menunggu 3 (tiga) anak
yang harus saya beri makan supaya tidak mati kelaparan !”. Ia tertegun sejenak
lalu menjawab, “ Ambillah tubuh saya sebagai penggantinya !” sambil mengerat
tubuhnya dan diberikan kepada elang. Namun anehnya setiap kali dagingnya
tercabik, segera tubuh daging baru memulihkannya. Inilah yang disebut welas
asih / compassion. Disinilah
perbedaan antara manusia dan hewan !
Naif
memang, bukankah ini yang disebut iman. Kalau karena mengharapkan imbalan / reward, itu disebut trade-in. Lalu apa bedanya dengan pandangan Adam Smith yang
kemudian menjadi cikal bakal kapitalisme liberal, yang mengatakan,”Bukan karena
kebaikan tukang roti, daging dan bir sehingga kita bisa hidup sejahtera, tapi
karena mereka mencari untung “.
Ketersediaan
sumber daya alam dibatasi oleh luasnya bumi yang tidak bisa bertambah,
sedangkan jumlah manusia dan kebutuhannya terus meningkat apalagi kalau
ramai-ramai memperebutkan untuk diolah menjadi bahan yang tidak bisa didaur
ulang dengan limbah yang mencemari lingkungan.
Untuk
mengatasi monopoli diadakan sistem ekonomi pasar yang berdasarkan kepercayaan
bahwa pasar mampu mengkoreksi kelemahannya sendiri sehingga pemerintah tidak
diperbolehkan banyak campur tangan. Terjadilah free trade tapi unfair trade.
Lagi-lagi kita dihadapkan dengan bukan memilih yang ini atu itu, tapi menemukan hidden connection antara keduanya atau unity in diversity.
Kearifan kuno mengajarkan “Spring comes and the grasses grow by itself
- Musim semi tiba dan rumput tumbuh dengan sendirinya” ! //....Jusuf Sutanto...//
